LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pemimpin kelompok Houthi Yaman melancarkan kritik keras kepada Donald Trump atas dukungannya terhadap Israel pada Kamis. Abdul Malik al-Houthi menegaskan bahwa presiden AS terpilih ini akan gagal mengakhiri konflik di Timur Tengah dalam masa jabatan keduanya.
Abdul Malik al-Houthi, yang kelompoknya berafiliasi dengan Iran, menyatakan bahwa serangkaian kesepakatan normalisasi antara negara-negara Arab dan Israel yang dimediasi oleh pemerintahan Trump selama masa jabatan pertamanya tidak membantu menyelesaikan konflik yang berkepanjangan ini.
Baca juga:
Untuk informasi terbaru mengenai konflik di timur tengah, kunjungi halaman ini."Trump gagal dalam proyek 'kesepakatan abad' meski dengan segala kesombongan, keangkuhan, kecerobohan, dan sikap tirani yang dia miliki. Dan dia akan gagal lagi kali ini," tegas Houthi dalam pidato mingguannya.
Kandidat Republik Trump mengalahkan Wakil Presiden Demokrat Kamala Harris dalam pemilihan Selasa lalu dan akan mulai menjabat pada Januari mendatang, kembali ke Gedung Putih setelah empat tahun absen.
Kemenangan Trump terjadi saat Timur Tengah sedang bergejolak pasca pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023, yang dipicu oleh serangan besar-besaran kelompok militan Palestina Hamas yang didukung Iran ke Israel.
Kelompok Houthi telah melakukan serangan terhadap kapal-kapal dagang di Laut Merah dan Teluk Aden, serta menembakkan rudal ke Israel sebagai bentuk solidaritas dengan Hamas.
Selama masa jabatan pertamanya, Trump mengawasi pembentukan hubungan diplomatik antara Israel dengan negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain, serta Maroko.
Trump juga mendukung pemukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki, yang ilegal menurut hukum internasional, dan memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem, kota yang diklaim sebagai ibu kota oleh Israel maupun Palestina.
Presiden AS yang akan lengser, Joe Biden, memastikan Washington tetap menjadi pendukung militer terpenting Israel selama perang Gaza yang sedang berlangsung, yang telah meluas hingga melibatkan Hizbullah yang berbasis di Lebanon dan Iran sendiri.
Dalam pidatonya pada Kamis, pemimpin Yaman ini menuding bahwa para presiden AS "berlomba-lomba siapa yang akan memberikan lebih banyak layanan kepada musuh Israel."
"Trump sendiri sudah pernah menjabat sebagai presiden sebelumnya, dan sangat bersemangat memberikan pencapaian bagi Israel," kata Houthi.
(lam)