LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah terus mendorong industri di tanah air agar bisa shifting (beralih) menggunakan teknologi modern. Hal itu dilakukan demi meningkatkan daya saing dan produktivitas industri yang ada.
Kepala Pusat Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Industri dan Kebijakan Jasa Industri (POPTIKJI) Kementerian Perindustrian, Heru Kustanto mengatakan, teknologi hingga saat ini terus berkembang sangat pesat. Untuk itu, Indonesia sudah seharusnya menerapkan penggunaan tekologi, khususnya di bidang industri.
"Pertumbuhan industri kita saat ini lebih banyak didorong oleh kontribusi SDM dan SDA, sementara untuk penerapan teknologinya masih terbilang kecil," ujarnya dalam diskusi virtual Industri 4.0: Digitalisasi dan Evolusi Industri Manufaktur, Rabu (15/9).
Baca juga: MUI: Wakaf Perlu Kontribusi Masyarakat, Jangan Hanya Bertumpu ke PemerintahBerdasarkan data yang ada, lanjut Heru, dari total perumbuhan ekonomo 5,8 persen, baru sekitar 0,1 persen industri di tanah air yang menggunakan penerapan teknologi. Sementara sisanya mengandalkan SDM dan SDA yang ada.
Dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, industri di sana yang menerapkan teknologi masih lebih tinggi, yakni tumbuh 0,3 persen. Demikian pula dengan Thailand yang juga tumbuh hingga 1,3 persen.
"Kita simpulkan secara makro, Indonesia untuk faktor produktivitas ekonomi dengan teknologi masih kecil. Padahal sudah banyak survey membuktikan bahwa industri bebasis teknologi bisa lebih maju," jelasnya.
Baca juga: Bahtsul Masail: Aset Kripto Sah dalam Hukum IslamSehingga, ia mendorong industri di tanah air untuk shifting kepada pemanfaatan teknologi. Hal itu dilakukan demi meningkatkan produktivitas dan daya saing nasional ke depan.
Sementara itu, Chief Business Development Officer Machine Vision, Muhammad Ali Fikri mengatakan, kecilnya angka penerapan teknologi di industri yang ada bukan berarti menunjukkan Indoenesia tidak mengelola sebuah teknologi modern demi kebutuhan industri.
Pasalnya, Industri 4.0 juga baru digencarkan dalam tiga tahun belakangan. Sehingga masih terlalu dini untuk menyimpulkan hal tersebut.
"Angka itu memang kecil, tapi kalau dilihat dari perkembangannya, sesungguhnya kita masih punya peluang yang terbuka lebar untuk dimanfaatkan. Jadi saya kira akan terlihat dalam kurun waktu 3-4 tahun ke depan," ujarnya.
Selain itu, ia juga menyebutkan, dalam penerapan teknologi nantinya, tidak akan mengurangi tingkat penyerapan tenaga kerja dari SDM. Sebab, Indonesia sendiri memiliki keunggulan dibandingkan dengan luar negeri akan kebermanfaatan dari orang dan budayanya.
"Kita harap semua pihak bisa mendorong pemain lokal dengan komunitasnya. Kita kaya akan SDA tapi percuma jika SDM tidak cukup keterampilan untuk mengolah itu semua," ujarnya.
Ia berharap, tantangan tersebut menjadi perhatian bersama untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan SDM yang ada. Sehingga, hal itu akan mencegah berkurangnya pemanfaatan terhadap SDM di bidang industri.
"Jadi kita perlu memecahkan masalah terkait tenaga kerja yang punya keterampilan. Tantangannya di perkembangan teknologi ini, kita perlu meningkatkan keterampilan dari SDM agar bisa bersaing," imbuhnya.
(zul)