LANGIT7.ID-, Jakarta- - Carlos O'Connell, gitaris band post-punk asal Irlandia Fontaines D.C., membuat pernyataan politik yang kuat saat tampil di Rolling Stone UK Awards.
Saat menerima penghargaan Album Terbaik untuk album terbaru mereka, Romance, O'Connell mengkritik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menyatakan solidaritasnya untuk Palestina.
"Agak aneh ini pertama kalinya dikatakan sepanjang malam ini," ujar O'Connell dalam pidato penerimaannya di Roundhouse London.
"Tapi saya akan mengatakannya: Bebaskan Palestina. Menolak Netanyahu. Menolak Zionisme. Bebaskan Palestina." Komentarnya muncul beberapa hari setelah Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu atas kejahatan perang di Gaza.
Baca juga:
VIRAL! Bintang Vampire Diaries Ajak Boikot Starbucks, Menolak Minum Kopi di Atas PanggungIni bukan pertama kalinya Fontaines D.C. menunjukkan dukungannya untuk Palestina. Pada 2023, band ini membatalkan pertunjukan di Istanbul setelah berkonsultasi dengan seniman dan aktivis HAM Palestina, dengan menyebutkan kekhawatiran tentang hubungan tempat acara dengan pasokan energi Israel.
Saat itu, band tersebut menyatakan, "Kami harus tegas dalam keyakinan kami dan mengutamakan solidaritas dengan rakyat Palestina."
Grup beranggotakan lima orang, yang terdiri dari vokalis utama Grian Chatten, gitaris Conor Curley, bassis Conor Deegan III, drummer Tom Coll, dan O'Connell, telah mendapat pujian kritis atas musik dan aktivisme mereka.
Album Romance mereka, yang dirilis pada 23 Agustus, telah dipuji sebagai "album luar biasa" oleh para kritikus.
Baca juga:
Macklemore Vs Amerika, Ketika Musisi Berani Bersuara untuk PalestinaIrlandia telah lama menjadi pendukung setia Palestina, secara konsisten mendukung hak-hak Palestina dan mengecam kebijakan Israel yang dianggap melanggar hukum internasional.
Negara ini termasuk yang pertama di Uni Eropa mengakui Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan kemudian negara Palestina.
Pada 6 November, Irlandia secara resmi menyetujui penunjukan duta besar penuh dari Palestina, dan pada 8 November, negara tersebut mengumumkan rencana untuk bergabung dengan kasus Afrika Selatan melawan Israel di Mahkamah Internasional (ICJ) pada akhir tahun ini.
(lam)