LANGIT7.ID-Jakarta; Dunia dakwah Islam kembali dihadapkan pada sebuah pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga adab dalam menyampaikan ajaran agama. Sebuah peristiwa yang melibatkan penggunaan kata kasar oleh seorang pendakwah terhadap pedagang kecil telah memicu diskusi mendalam tentang etika berdakwah di era modern.
Islam menempatkan adab berbicara sebagai fondasi utama dalam menyebarkan ajaran agama. Al-Qur'an dengan indah menggambarkan pentingnya bertutur kata yang baik dalam Surah Al-Isra ayat 53: "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)."
Baca juga: Viral Gus Miftah Hina Penjual Es Teh, Lembaga Dakwah PBNU Ingatkan Etika dan Guyon dalam BerdakwahKehilangan adab dalam berdakwah bukan hanya mencerminkan kekurangan pribadi pendakwah, tetapi juga dapat mengaburkan esensi ajaran Islam yang penuh rahmat. Sosok Rasulullah SAW telah memberikan teladan sempurna bagaimana seharusnya dakwah disampaikan. Bahkan ketika menghadapi cacian dan hinaan, beliau tetap membalas dengan kelembutan dan doa.
Al-Qur'an dalam Surah An-Nahl ayat 125 juga memberikan panduan jelas tentang metode dakwah yang benar: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik." Ayat ini menegaskan bahwa keberhasilan dakwah tidak diukur dari seberapa keras suara atau tajam kritikan, melainkan dari bagaimana pesan tersebut dapat menyentuh hati dengan kelembutan.
Baca juga:Viral Gus Miftah Hina Penjual Es Teh, Dibalas Gus Umar: Becandamu Gak Lucu!Di tengah arus modernisasi dan tuntutan konten viral, beberapa pendakwah terjebak dalam gaya ceramah yang mengesampingkan adab demi menarik perhatian. Fenomena ini seharusnya menjadi introspeksi bagi seluruh umat Islam, terutama para pendakwah, bahwa popularitas tidak boleh mengorbankan nilai-nilai fundamental ajaran Islam.
Hilangnya adab dalam dakwah dapat memberikan dampak negatif yang berkelanjutan. Selain merusak citra Islam sebagai agama rahmat, hal ini juga dapat menjauhkan masyarakat dari esensi ajaran agama yang sebenarnya. Padahal, sejarah membuktikan bahwa Islam tersebar ke berbagai penjuru dunia justru karena keindahan akhlak para penyerunya.
Baca juga: Dari Soal Adab Hingga Tak Rela Digaji dari Pajak, Jadi Alasan Publik Bikin Petisi Copot Gus MiftahPeristiwa ini hendaknya menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali metode dakwah yang berkembang di masyarakat. Dakwah yang efektif bukanlah yang paling mengundang tawa atau paling viral di media sosial, melainkan yang mampu menghadirkan perubahan positif melalui cara-cara yang santun dan menyejukkan hati.(*)
(lam)