LANGIT7.ID, Jakarta - Sejarah di Bulan Safar yakni momen pernikahan Rasulullah dengan Khadijah. Ketika itu Nabi Muhammad baru berusia 25 tahun, sementara istrinya 40 tahun.
Namun Bulan Safar merupakan waktu yang membahagiakan bagi Muhammad muda. Dia mendapati seorang istri yang kelak menjadi pendukung pertama dan paling utama terkait perannya sebagai pembawa risalah Allah.
Khadijah merupakan seroang pebisnis dan dikenal sebagai wanita mulia yang terjaga dari pencemaran pemikiran jahiliyyah. Karena itu dia dijuluki sebagai At Tahirah, atau perempuan suci.
Awal perjumpaan keduanya berawal ketika Nabi Muhammad menjadi distributor komoditas bisnisnya Khadijah. Ummul Mukminin menginginkan Muhammad menjual barang dagangannya ke Suriah setelah mengetahui integritas pribadi Rasulullah.
"Perdagangan itu ternyata sangat menguntungkan karena Muhammad dapat menujal aset-asetnya hampir dua kali lipat dari harga yang dibayarkan," dikutip Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik (Martin Lings, 1983).
Singkatnya, ketampanan dan kepribadian Muhammad yang menawan membuat Sayyidah Khadijah jatuh hati. Dia pun lantas curhat kepada temannya, Nufaysah.
Nufaysah pun menawarkan diri untuk mendekati Muhammad, dan jika perlu, mengatur pernikahan mereka berdua. "Putra pamanku, aku mencintaimu," kata Khadijah setelah Nufaysah berhasil mempertemukan keduanya.
"Aku mencintaimu karena kebaikanmu padaku, juga engkau selalu terlibat dalam urusan masyarakat dengan ikhlas dan bisa diandalkan," ujarnya lagi.
Setelah bersepakat menikah, Khadijah menemui pamannya, Amr bin Asad. Sementara dari pihak kelaurga pria mengutus paman Nabi Hamzah bin Abdul Muthalib melamar Khadijah untuk keponakannya itu.
Kesepakatan dicapai di antara mereka bahwa Muhammad harus memberikan mahar 20 ekor unta betina. Pasangan berbahagia ini dikaruniai dua orang putra dan empat orang putri. Mereka adalah Abdullah, Al Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah Az Zahra.
(bal)