LANGIT7.ID, Depok - Burung murai batu menjadi primadona di kalangan kicau mania. Burung dengan ciri khas ekornya yang panjang ini juga menjadi jenis burung kicau nomor wahid yang paling diminati, karena kepandaiannya menirukan suara burung lain.
Murai batu juga memiliki harga yang relatif stabil di pasaran untuk kelas burung kicau. Pasalnya, untuk beternak burung cerdas satu ini juga terbilang susah-susah gampang.
Itulah yang menjadikan muslim kelahiran Ciamis, Jawa Barat, Irun Supriyatna mulai tertarik dan mencoba untuk menjadi peternak murai batu. Sebelum memutuskan menjadi peternak, Irun berprofesi sebagai tukang jahit.
Berawal dari hobinya terhadap burung kicau, Irun mengawalinya dengan membeli dan menjual kembali trotol (anakan burung) murai batu secara eceran. Lambat laun, berkat kegigihannya dan permintaan yang selalu ramai, ia mulai berpikir untuk membeli indukan agar bisa mendapatkan hasil panen murai batu secara mandiri.
"Dari jual trotolan itu terkumpul uang dan saya belikan satu pasang indukan. Sampai sekarang saya sudah punya 11 kandang ternak murai batu," ujarnya dikanal Youtube Kisah Tanpa Batas.
Selama menjalani profesi sebagai penjahit sembari berjualan trotolan, Irun merasakan keuntungan pekerjaan sampingannya lebih menjanjikan ketimbang penjahit. Sejak merasakan keuntungan itu, ia memutuskan untuk lebih fokus untuk beternak murai batu.
"Dari ternak ini juga yang bisa menyelamatkan saya dari pandemi, karena kalau mengandalkan dari jahit sepertinya saya sudah gulung tikar," ujarnya.
Sebab, saat awal pandemi, Irun merasakan betul dalam seharinya tidak mendapatkan masukan rupiah ke kantongnya. Beruntungnya, saat itu ia sudah beralih fokus kepada dunia usaha peternakan murai batu, sehingga cukup membantu perekonomiannya.
Irun yang tinggal mengontrak di Depok, kini mampu menunjukkan hasil dari ternakannya. Menurut pengakuannya, dari hasil beternak, ia sudah mampu membeli motor, termasuk rumah dan sawah di kampung halamannya di Ciamis, Jawa Barat.
Semua itu, lanjut Irun, merupakan ikhtiar yang dilakukannya saat berfokus menjadi peternak murai batu. Untuk itu, ia selalu mengedepankan perawatan yang maksimal terhadap ternakannya.
"Karena untuk menjaga produktivitas itu kan tergantung perawatan, mulai dari menjaga ketersediaan pakan hingga berupaya menjaga agar burung tidak stres. Kalau burung sudah nyaman kan InsyaAllah produksi," ujarnya.
Baca juga: Alih Profesi, Mantan Kepala Sekolah Ini Sukses Jadi Petani KentangPer ekor, Irun membandrol trotol murai batu hasil ternakannya berkisar antara Rp1,7-2,5 juta. Namun, untuk murai batu yang siap tampil di perlombaan, ia mampu membandrol harga hingga Rp15 juta.
Sempat Ditentang KeluargaWalaupun Irun merasakan keuntungan yang cukup menjanjikan, tapi ternyata keluarganya sempat menolak jika ia harus beralih menjadi peternak murai batu. Sebab, kala itu profesi sebagai penjahit menjadi satu-satunya yang bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Baca juga: Jualan Sejak Kuliah, Brand Tas Muslimah Ini Bersaing di Pasar InternasionalIrun mengisahkan, kala itu perekonomian keluarga serba berkecukupan dari hasil menjahit. Dengan hobinya terhadap murai batu yang harganya juga cukup lumayan, menjadikan pertentangan di dalam keluarganya.
"Penghasilan pas-pasan itu saya sambil main murai batu. Itu yang terkadang ditentang sama istri, karena memang harganya kita tahu cukup mahal kan," kata dia.
Namun, Irun mengaku saat ini sudah mendapatkan restu dari istri dan kerabatnya untuk fokus beternak murai batu. Terlebih, ia juga mampu menunjukkan hasil keuntungan yang lebih dari menjahit.
(zul)