LANGIT7.ID-Jakarta; Pemerintah Amerika di bawah Joe Biden terus berupaya menjaga perdamaian antara Hezbollah dan Israel. Gedung Putih memastikan gencatan senjata yang sudah disepakati akan terus berjalan dengan baik.
Di tengah situasi damai ini, Lebanon bersiap menggelar pemilihan presiden pekan depan. John Kirby dari Dewan Keamanan Nasional AS menekankan betapa pentingnya rakyat Lebanon diberi kesempatan memilih pemimpin mereka untuk menciptakan perdamaian yang stabil.
Setelah Hamas menyerang Israel pada Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang, Hezbollah ikut menyerang Israel sebagai bentuk dukungan untuk Palestina di Gaza. Perang berlangsung setahun sampai akhirnya Washington berhasil mendamaikan kedua pihak pada November lalu.
Untuk mengawasi kesepakatan damai, Amerika menugaskan Mayjen Jasper Jeffers ke Lebanon. Dia memimpin tim pengawas yang beranggotakan perwakilan AS, Prancis, PBB, tentara Lebanon, dan Israel. Jeffers baru saja mengunjungi pasukan Lebanon di wilayah South Litani dan Khiam.
"Saya kagum melihat profesionalisme tentara Lebanon. Mereka bekerja siang malam membersihkan wilayah dari bahan peledak agar warga bisa pulang dengan aman," kata Jeffers saat kunjungannya hari Jumat.
Kedutaan AS melaporkan, tentara Lebanon sudah berhasil menyingkirkan lebih dari 9.800 bahan peledak dari 80 lokasi berbeda. Sesuai kesepakatan damai, Israel harus mundur dari wilayah Lebanon sebelum tentara Lebanon mengambil alih daerah-daerah yang dulu dikuasai Hezbollah.
Menlu AS Antony Blinken juga membahas pemilihan presiden Lebanon dengan Menlu Prancis. Setelah dua tahun tanpa presiden, Lebanon akan menggelar pemilihan pada 9 Januari mendatang. Kirby menegaskan AS akan mengawasi proses pemilihan dengan cermat.
(lam)