LANGIT7.ID-Jakarta; Toshihiro Mibe yang telah memimpin Honda selama hampir 3 tahun ini terlihat ragu saat menjawab pertanyaan tentang rencana merger dengan Nissan. Pria berusia 63 tahun ini hanya menjawab singkat "Ini pertanyaan yang sulit," saat ditanya mengapa Nissan dipilih sebagai mitra merger.
Rencana penggabungan dua perusahaan otomotif terbesar Jepang ini menarik perhatian dunia. Jika terwujud, perusahaan baru hasil merger akan mampu memproduksi 6,5 juta mobil setiap tahun dan menjadi produsen mobil terbesar ketiga di dunia.
Namun banyak pihak mempertanyakan keputusan Honda yang dikenal sehat secara finansial untuk bergabung dengan Nissan yang sedang mengalami kesulitan keuangan. Beberapa pengamat menduga ada motif lain di balik rencana merger ini.
Dugaan tersebut semakin kuat setelah munculnya informasi bahwa Kementerian Ekonomi Jepang mendukung merger ini. Tujuannya adalah mencegah Nissan jatuh ke tangan Foxconn, perusahaan teknologi asal Taiwan. Meski demikian, pihak Honda membantah bahwa merger ini bertujuan menyelamatkan Nissan.
Mantan CEO Nissan, Carlos Ghosn, juga mengkritik rencana merger ini. Menurutnya, langkah ini lebih mementingkan kontrol dibanding kinerja perusahaan. "Secara pribadi, saya rasa ini tidak akan berhasil," ujar Ghosn.
Sebenarnya Honda dan Nissan sudah menjalin kerja sama dalam pengembangan teknologi mobil. Kedua perusahaan berbagi teknologi untuk mobil listrik, termasuk baterai dan perangkat lunak untuk sistem mengemudi otomatis.
Saat ini kedua perusahaan juga sedang mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mobil mereka. Merger diperkirakan akan selesai tahun depan. Mitsubishi Motors yang selama ini bekerja sama dengan Nissan kemungkinan juga akan bergabung dalam merger ini.
Jika merger terwujud, ketiga perusahaan akan menggunakan platform mobil yang sama untuk berbagai jenis kendaraan mereka. Langkah ini akan membuat proses produksi lebih efisien dan menghemat biaya pengembangan teknologi baru. (the sun)
(lam)