LANGIT7.ID- Bagi kalangan Nahdliyin, sebutan anggota ormas NU, sosoknya adalah panutan saat ini. Beliau adalah pimpinan NU sekarang, tokoh moderat, yang sangat mencintai pluralisme.
Salah satu pernyataan beliau yang mencitrakan sebagai sosok moderat adalah, "Agama sering kali digunakan sebagai pembenaran dan bahkan senjata untuk berkonflik."
Dengan 150 juta anggota di seluruh Indonesia dan memiliki 21.000 madrasah, ketokohan Kiai Yahya Cholil Staquf sangat dibutuhkan NU dalam menghadapi tantangan yang semakin mengglobal saat ini.
Profil singkat Yahya Cholil Staquf Dikenal dengan sapaan Gus Yahya, beliau lahir di Rembang, Jawa Tengah, 16 Februari 1966. Saat ini usia 59 tahun.
Gus Yahya adalah putra ulama K.H. M. Cholil Bisri, keponakan dari K.H. A. Mustofa Bisri, dan kakak kandung dari mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas.
Gus Yahya juga menjadi salah satu pengasuh di Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, Leteh, Rembang.
Latar belakang pendidikan Gus Yahya Staquf adalah keturunan dari garis keturunan ulama Jawa yang panjang dan termasyhur dan dididik sejak kecil dalam ilmu-ilmu formal dan spiritual Islam.
Ia menjadi murid dari ulama yang dihormati dan ketua Dewan Tertinggi NU, KH Ali Maksum (1915-1989), dan Ketua Umum NU yang juga merupakan kepala negara pertama Indonesia yang terpilih secara demokratis, KH Abdurrahman Wahid (1940-2009).
Gus Yahya memimpin NU dengan jariangan yang begitu luas, mencakup 30 wilayah dengan 339 cabang, 12 cabang istimewa, 2.630 Majelis Wakil Cabang dan 37.125 Majelis Wakil Cabang di seluruh Indonesia.
NU mempraktikkan doktrin Ahl Al-Sunnah wa Al-Jama'ah, yang berarti “pengikut Sunnah (praktik Nabi Muhammad SAW) dan masyarakat”.
Kiprahnya di level global Pada tahun 2014, Gus Yahya tercatat sebagai salah satu inisiator pendiri institut keagamaan di California, Amerika Serikat yaitu Bait ar-Rahmah li ad-Da’wa al-Islamiyah Rahmatan li al-'Alamin yang mengkaji agama Islam untuk perdamaian dan rahmat alam.
Ia juga pernah dipercaya menjadi tenaga ahli perumus kebijakan pada Dewan Eksekutif Agama-Agama di Amerika Serikat-Indonesia yang didirikan berdasarkan perjanjian bilateral yang ditandatangani oleh Presiden Obama dan Presiden Jokowi pada Oktober 2015 untuk menjalin kemitraan strategis antara Amerika Serikat dan Indonesia.
Gus Yahya juga pernah didaulat sebagai utusan Pimpinan Pusat GP Ansor dan PKB untuk jaringan politik tersebar di Eropa dan Dunia, Centrist Democrat International (CD), dan European People’s Party (EPP).
Selain itu, American Jewish Committee (AJC) pernah mengundangnya berpidato tentang resolusi konflik keagamaan di sana dan menawarkan gagasan bernas.
Gus Yahya sering didaulat menjadi pembicara internasional di luar negeri. Seperti pada Juni 2018, Yahya menjadi pembicara dalam forum American Jewish Committee (AJC) di Israel.
Dalam forum ini, Gus Yahya menyuarakan menyerukan konsep rahmat, sebagai solusi bagi konflik dunia, termasuk konflik yang disebabkan agama. Ia menawarkan perdamaian dunia melalui jalur-jalur penguatan pemahaman agama yang damai.
Pada 15 Juli 2021, Gus Yahya mendapatkan apresiasi tinggi dari tokoh-tokoh perdamaian dunia dalam perhelatan International Religious Freedom (IRF) Summit, di Washington, DC, Amerika Serikat. Dalam kesempatan itu, Gus Yahya menyampaikan pidato kunci dengan judul “The Rising Tide of Religious Nationalism” (Pasang Naik Nasionalisme Religius).
Gus Yahya ingin membawa kearifan peradaban Islam Nusantara ke panggung global, menandingi interpretasi Islam yang penuh kekerasan. Perannya, mengantarkan sebagai 20 tokoh muslim dunia paling berpengaruh versi themuslim500.com.(*)
(hbd)