LANGIT7.ID, Jakarta - Al-Qur’an menjelaskan kata bahagia dengan berbagai macam istilah dan definisi, di antaranya sa’adah yakni kebahagiaan yang kekal dan falah berarti mencapai kebahagiaan dengan menemukan apa yang dicari.
Terkadang manusia mencari kebahagiaan sampai menghalalkan berbagai cara dan melupakan ibadah kepada Allah Ta’ala. Akhirnya, orang seperti itu tidak mendapatkan kebahagiaan, melainkan kesengsaraan lantaran keliru dalam mendudukkan dan mencari kebahagiaan.
Maka dari itu, manusia harus memahami bahagia menurut Al-Qur’an dan cara mendapatkannya, agar kebahagiaan tersebut dapat diraih dalam kehidupan.
Dalam Al-Qur’an, banyak sekali pembahasan kebahagiaan dalam hidup manusia. Dalam pandangan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof Dr. Hamka, Anisa Kumala, Al-Qur’an mengklasifikasikan kebahagiaan menjadi enam macam.
Pertama, orang yang khusyuk dalam shalat. kedua, orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna. Ketiga, orang yang menunaikan zakat. Keempat, orang yang menjaga kemaluan kecuali terhadap istri dan budak yang ia miliki. Kelima, orang yang memelihara amanah dan janji yang dipikul. Keenam, orang yang memelihara shalat sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Mu’minun ayat 1-9.
“Islam mengajarkan keseimbangan. seorang muslim akan bahagia ketika di akhirat kelak, tapi juga harus ingat ketika di dunia ada nasib yang harus diperjuangkan juga. Kalau kita mengejar akhirat, jangan lupa juga dunia,” kata Anisa, dikutip laman Muhammadiyah, Rabu (22/9/2021).
Namun patut dicatat, sepatutnya manusia mengejar kebahagiaan hakiki di akhirat kelak, bukan kebahagiaan duniawi yang bersifat sementara.
Mengutip laman dalamislam.com, terdapat tiga cara mengejar kebahagiaan akhirat.
Pertama, tunduk pada aturan Allah Ta’ala. Poin pertama ini mutlak. Jika ingin mendapatkan kebahagiaan di akhirat, tentu harus mengikuti aturan main Allah Ta’ala. Maka hal utama yang harus dilakukan adalah tunduk pada aturan-Nya. Semua aturan itu sudah termaktub dalam Al-Qur’an dan hadits.
Kedua, menjalankan misi hidup manusia di bumi. Manusia memiliki misi khusus diciptakan di muka bumi. Setidaknya ada dua misi penting, yakni menjadi khalifah di muka bumi dan beribadah kepada Allah Ta’ala.
Ketiga, berjuang di jalan Allah Ta’ala. Poin ketiga ini termaktub dalam surah An-Nisa ayat 74. Allah berfirman;
“Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak Kami berikan kepadanya pahala yang besar.”
Berjuang di jalan Allah artinya menegakkan dan menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Berperang tidak harus pertempuran fisik. Perang paling utama adalah mengendalikan hawa nafsu agar tunduk pada kehendak-Nya.
Itu hal-hal yang harus dilakukan jika ingin mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Maka manusia tidak perlu khawatir jika memang kehidupan dunia tidak memuaskan. Dunia tempat singgah, sementara akhirat adalah kampung abadi tempat kembali semua manusia.
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa: 40).
(jqf)