LANGIT7.ID - Dalam ujian pembuatan SIM (Surat Izin Mengemudi), para pemohon ujian SIM harus menyelesaikan beberapa tes terlebih dahulu. Tes tersebut meliputi tes praktek, tes tertulis, tes kesehatan dan tes psikologi.
Untuk tes psikologi sendiri bertujuan untuk mengukur kondisi mental pemohon SIM. Tahapan ini dianggap penting, kaena dapat memprediki perilaku para pengendara di jalan.
Meskipun demikian, masih banyak para pemohon SIM yang acuh dan tidak ambil pusing.
Padahal sikap tersbut menyebabkan banyak pemohon yang kebingungan, salah kaprah, bahkan terpaksa harus mengulang kembali tes psikologi.
Tes psikologi sendiri sebenarnya tidak menggunakan soal-soal eksak (perhitungan). Tes tesebut lebih ke soal logika dan nalar yang bertujuan untuk menakan pola pikir seseorang.
Jika pemohon SIM yang menjalani tes psikologi ini keliru atau asal-asalan saat mengisinya, maka pemohon SIM tidak diperbolehkan untuk mengikuti ujian SIM.
Nah, bagi para pemohon SIM yang ingin lolos pada tes psikologi ini ada beberapa tips yang bisa dilakukan para pemohon.
Tes psikologi sendiri ada 3 poin pengujian, yaitu psikomotorik alias responsivitas, kognitif alias nalar, dan kepribadian.
Dari ketiga poin diatas, hanya poin kepribadian saja yang dianggap dinamis. Poin kognitif dan psikomotorik dianggap statis, atau memiliki standar.
Para pemohon yang mengikuti tes psikologi dengan tingkat emosional tinggi dan respon yang rendah akan digagalkan karena dianggap berbahaya.
Sebab, kontrol emosi dan pengambilan keputusan yang baik sangat penting sekali bagi para pengendara kendaraan bermotor.
Untuk mengakali tes psikologi bisa lolos, para pemohon SIM disarankan untuk mengikuti kursus di sekolah-sekolah mengumdi.
Selain bermanfaat untuk menguatkan kemampuan berkendara, sekolah mengemudi juga berguna untuk melatih kemampuan dalam mengerjakan soal kontrol emosi, dan menuntut pengendara untuk melihat dari sudut pandang orang ke-3 serta melatih sikap tenggang rasa.(*)
(hbd)