LANGIT7.ID, Jakarta - Dewasa ini dinding maya dipenuhi literasi tak mendidik. Pengguna media sosial kerap merasa bebas untuk mengekspresikan apa saja, seakan bebas tanpa batas. Maka santri harus mengisi literasi digital untuk menyebarkan wajah Islam yang
rahmatan lil-alamin.
Literasi digital merupakan pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital seperti alat komunikasi, jaringan internet, dan lain sebagainya. Santri harus melek digital atau memiliki kompetensi digital untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Literasi digital sangat penting dipelajari di era digitalisasi saat ini.
Pencerdasan literasi digital merupakan kerja besar. Ada beberapa skill-skill kecakapan digital yang perlu dipelajari oleh paraantri, dari yang paling dasar seperti kecakapan penggunaan handphone dengan tahu cara berkomunikasi, berkolaborasi, berinteraksi, transaksi, dan mencari informasi melalui internet serta menggunakan aplikasi.
Kecakapan level menengah seperti kemampuan menciptakan konten, bias membuat produk-produk artefak digital, membuat video, audio, dan lain sebagainya. Level teratas, kemampuan menggunakan
big data, artificial intelligence, dan
virtual reality.
Dosen Komunikasi Digital Universitas Trunojoyo, Ahmad Cholil, mengatakan, santri memiliki pemahaman keagamaan yang toleran, maka harus hadir dalam mengisi ruang digital. Maka penting seorang santri meningkatkan kapasitas literasi digital meliputi
digital skill, digital culture, digital ethic, dan
digital safety.
Teknologi telah mengubah pola interaksi, perilaku, pemikiran, dan komunikasi dalam masyarakat. Kebiasaan baru tersebut harus berada dalam konteks ke-Indonesiaan sesuai nilai dan norma yang berlaku.
Menurutnya teknologi telah mengubah pola interaksi, perilaku, pemikiran, dan komunikasi dalam masyarakat. Kebiasaan baru tersebut harus tetap berada dalam konteks keindonesiaan sesuai nilai dan norma yang berlaku.
Dalam webinar bertajuk Santri Makin cakap Digital yang digelar AISNU, konten creator Gus Zainuddin, mengatakan, ruang digital harus dimanfaatkan untuk aktivitas dakwah. Santri harus mengisi ruang digital dengan konten-konten kepesantrenan untuk menggeser narasi negatif yang sangat masif beredar di media digital.
Selain itu, ilmu yang didapat di pesantren tidak boleh hanya berhenti pada diri sendiri, namun bisa dikonsumsi oleh masyarakat luas.
“Banyak hal yang dapat dijadikan sebagai modal untuk membuat konten digital berbasis kepesantrenan. Hal ini menarik dan tentu sangat bermanfaat mengingat tidak semua orang memiliki kesempatan untuk belajar di pesantren,” kata Zainuddin, dikutip dari kanal youtube AIS Nusantara, Rabu (22/9/2021).
Baca Juga: Menengok Dapur Rekaman Nasyid Gontor, Dakwah Santri Lewat Karya Seni(jqf)