LANGIT7.ID, Jakarta - Krisis Covid-19 menunjukkan rapuhnya ketahanan kesehatan global, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam acara Global Covid-19 Summit secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.
Jokowi mengatakan jika arsitektur sistem ketahanan kesehatan dunia harus diperkuat, seperti yang dilakukan oleh Bank Dunia (IMF) atau Dana Moneter Internasional di bidang keuangan.
"Kita harus menyusun mekanisme baru penggalangan sumber daya kesehatan dunia, termasuk untuk pembiayaan darurat kesehatan dunia yang antara lain digunakan untuk pembelian vaksin, obat, dan alat kesehatan," kata Jokowi.
Baca juga:
Presiden Joko Widodo Akan Sampaikan Pidato dalam Sidang Umum PBB ke-76Standar protokol kesehatan global, tambah Jokowi, harus segera disusun agar standar di semua negara bisa sama. Salah satunya mengatur tentang perjalanan lintas batas negara.
Selain itu, Jokowi juga menyerukan agar negara berkembang harus diberdayakan menjadi bagian dari solusi. Kapasitas manufaktur lokal harus dibangun agar kebutuhan vaksin, obat-obatan, dan alat kesehatan bisa tersedia secara cepat dan merata di seluruh dunia.
"Indonesia berkomitmen dan mampu menjadi bagian dari rantai pasok global," ucap Jokowi.
Berkaitan dengan vaksin, Jokowi menegaskan ketimpangan vaksin antarnegara harus segera diatasi. Ia meminta agar politisasi dan nasionalisme vaksin harus diakhiri.
Baca juga:
Kejar Target 70 Persen Vaksinasi 2021, Indonesia Terima 3,4 Juta Dosis Vaksin"Melalui Covax Facility, kerja sama berbagi dosis atau dose-sharing dan akses yang merata terhadap vaksin harus ditingkatkan. Solidaritas dan kerja sama merupakan kunci agar dunia segera keluar dari pandemi dan segera pulih bersama," ujarnya.
"Sebagai Presiden G20 tahun depan, Indonesia akan berkontribusi pada upaya dunia memperkuat arsitektur ketahanan kesehatan global demi anak cucu kita di masa depan," pungkasnya.
Seperti diketahui, pertemuan tingkat tinggi dunia terkait penanganan pandemi Covid-19 tersebut digagas oleh Presiden Amerika Serikat, Joe Biden. Ini merupakan pertemuan kedua yang digagas Presiden Biden setelah Meeting of Major Economic Forum pada 17 September 2021 lalu.
(sof)