LANGIT7.ID - Seorang santri sangat penting memperhatikan adab terhadap guru sebelum menuntut ilmu. Itu agar ilmu yang didapat mendapatkan keberkahan dari Allah Ta’ala.
Guru merupakan aspek besar dalam penyebaran ilmu, apalagi jika yang disebarkan adalah ilmu agama. Ahli waris nabi, begitu julukan mereka para pemegang kemuliaan ilmu agama. Kedudukan mereka sangat tinggi di hadapan Allah Sang Pencipta.
Imam Zarnuji dalam kita Ta’lim Al-Muta’alim menulis bab ‘Mengagungkan Ilmu dan Ahli Ilmu’ sebagai bentuk penekanan pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Adab merupakan kunci keberkahan. Seseorang tidak bisa mendapatkan keberkahan ilmu jika tidak beradab kepada gurunya.
Buya Yahya mengatakan, seorang santri tidak akan mendapatkan dan tidak bisa memanfaatkan ilmu kecuali mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu (ulama) yang mengajarkan ilmu itu, dan mengagungkan ustadz serta memuliakan mereka.
“Tidak akan sampai kepada ilmu atau seorang alim tidak akan menjadi alim, kecuali dengan pengagungan, pemuliaan kepada guru. Tidak akan jatuh orang yang telah jatuh dalam kehinaan, kecuali sebabnya karena meninggalkan pemuliaan, pengagungan kepada gurunya,” tutur Buya Yahya melalui Al-Bahjah TV, dikutip Jumat (24/9/2021).
Guru tidak pernah mencari penghormatan, karena yang mereka cari adalah kemuliaan dari Allah Ta’ala, bukan dimuliakan oleh santri. Seorang guru tidak mengharapkan penghormatan dari santri, namun menghormati guru merupakan kepentingan santri agar ilmu mengucur dan mendapat keberkahan dalam ilmu.
Menurut Buya Yahya, seorang santri yang tidak menghormati guru, maka tidak akan mengucur ilmu yang dimiliki oleh guru. Sehingga dengan penghormatan inilah seorang murid akan melampaui gurunya. Ada beberapa cara menghormati guru, di antaranya sebagai berikut:
Pertama, jangan berjalan di depannya (jangan membelakangi guru), kecuali diminta oleh guru. Kedua, jangan duduk di tempat yang biasa diduduki oleh guru. Ketiga, jangan memulai berbicara/pembicaraan di hadapan guru, kecuali mendapat izin terlebih dahulu dari guru.
Selain itu, santri juga tidak boleh bertanya kepada guru tentang sesuatu saat guru tampak sedang capek. Capek bukan berarti guru bosan atau capek mengajarkan ilmu. Namun capek secara manusiawi yang membutuhkan istirahat. Misalnya, guru mengajar berjam-jam, namun santri malah bertanya pada saat guru istirahat.
“Kalau menjadi guru, menjadi ulama, jangan penghormatan. Mencari ilmu jangan salah niat karena ada perasaan enak ketika menjadi ulama dihormati. Guru tidak minta penghormatan, mereka ingin dimuliakan oleh Allah, tetapi ini pendidikan bagi kita sebagai seorang murid. Maka, kita perlu menghormati, memuliakan guru kita demi mendapatkan ilmu dari Allah melalui guru kita,” Buya Yahya.
(jqf)