LANGIT7.ID-Jakarta; Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berencana mendorong sektor industri petrokimia dan gas untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%. Namun, sejumlah tantangan berat harus dihadapi untuk mewujudkan target ambisius ini, termasuk dampak dari serbuan barang impor, ketergantungan pada harga gas, dan masalah ketidakpastian investasi.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono menilai bahwa pertumbuhan ekonomi 8% dapat tercapai. Namun, ia menekankan bahwa pencapaian target ini akan memakan waktu lebih lama jika serbuan barang impor tidak segera diatur.
“Jika barang impor ini tidak diatur, terutama di sektor hilir, hal itu akan mengganggu sektor hulu. Ini yang membuat pertumbuhan ekonomi 8% jadi lebih sulit dicapai,” ujar dia dalam keterangannya, dikutip Selasa (4/3/2025).
Masalah lain yang turut menjadi hambatan adalah meningkatnya demonstrasi yang seringkali mengganggu proses investasi. Fajar menambahkan, beberapa investor bahkan mulai menahan rencana investasi mereka di Indonesia karena adanya ketidakpastian terkait dengan situasi politik dan sosial yang dapat mempengaruhi kelancaran operasional mereka.
"Dengan kondisi ini, banyak investor yang mulai menunggu dan melihat arah kebijakan pemerintah. Mereka khawatir jika gangguan-gangguan ini tidak diselesaikan, maka potensi pertumbuhan 8% akan semakin sulit tercapai,” kata dia.
Di sisi lain, masalah daya beli juga menjadi tantangan besar. Sektor tekstil, yang merupakan bagian dari industri hulu, mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) yang semakin meningkat yang mengurangi daya beli masyarakat.
Hal ini pada akhirnya akan mempengaruhi permintaan domestik terhadap produk-produk industri. Oleh karenanya, dirinya menekankan agar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, penting untuk mengontrol suplai dan permintaan secara efektif, dengan mencegah produk impor yang murah menguasai pasar domestik.
“Jika suplai demand lokal terus dipenuhi oleh produk impor, itu akan mengakibatkan penurunan utilitas industri yang signifikan, dari hulu hingga hilir. Ini akan menyebabkan lebih banyak PHK,” terangnya.
Dengan tantangan yang ada, Fajar berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret dalam mengatur impor, mendukung kebijakan energi yang lebih terjangkau, serta menciptakan iklim investasi yang stabil dan kondusif. Jika masalah-masalah ini tidak segera diatasi, tujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% akan semakin sulit tercapai.
"Pemerintah harus segera mengambil sikap agar bisa mewujudkan target itu," pungkas dia.
(lam)