LANGIT7.ID-Pertumbuhan Ekonomi di tahun ini diperkirakan tidak jauh beda dengan tahun yang lewat di sekitar 5 persen. Pertumbuhan tersebut secara makro didorong oleh pertumbuhan konsumsi yang jika ditelusuri lagi berasal dari pertumbuhan penduduk yang masih positif bertambah sekitar 1.05 persen atau sekitar 3 juta per tahun, setiap dua tahun kita bertambah beban sebesar negara Singapura.
Kebutuhan pekerjaan baru kita sebesar 2,5 juta per tahun supaya pengangguran tidak memburuk. Tetapi di tahun tahun lalu terdapat stok angkatan kerja yang sekarang masih tetap menganggur dan setengah menganggur yaitu karena bekerja seadanya. Kita membutuhkan bukan hanya semata mata pekerjaan tetapi pekerjaan yang layak yang memberikan penghasilan yang baik dan beban kerja yang wajar produktif.
Pengangguran diserap oleh pertumbuhan ekonomi atau pertumbuhan produksi barang dan jasa nasional, dan bisa juga diserap oleh pertumbuhan pekerjaan di luar negeri. Pertumbuhan produksi barang dan jasa masih terus terjadi sekitar 5 persen setahun yang secara makro dipicu oleh pertambahan konsumsi. Secara mikro pertambahan konsumsi tentu direspon dengan ekspansi produksi melalui tiga sumber, yaitu memanfaatkan kapasitas, katakanlah mesin dan pekerja yang ada sejak tahun sebelumnya, menambah investasi membeli alat produksi yang baru dan menambah pekerja baru, atau menambah usaha usaha yang sama sekali baru yang dilakukan oleh investor, tetapi sebagian besar pekerjaan diciptakan oleh angkatan kerja yang baru katakanlah selesai pendidikan, dan umumnya melalui start up UMKM usaha mikro, kecil, dan menengah.
Penciptaan pertumbuhan ekonomi melalui pembentukan UMKM baru ini penuh perjuangan dan jatuh bangun. Dikarenakan usaha usaha besar menguasai pasar untuk barang barang establish dan standar dan untuk barang konsumsi harian terutama pangan dan sandang bersaing sangat ketat. Respon untuk kebutuhan pangan juga sudah berlebih terutama pangan - melalui restoran dan bentuk start punya warung warung kecil dan yang lebih kecil berupa gerobak gerobak dorong.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Kemana 60 Ttriliun dana Restorasi Banjir Sumatra?Para tenaga terdidik, insinyur insinyur baru, dokter baru, guru baru, perawat baru, sarjana hukum, sarjana ekonomi, bahkan psikologi, jika mengandalkan pekerjaan linear, jumlah tenaga kerja yang lulus sudah berlebih. Ditambah dengan tenaga lulusan menengah atas dan menengah pertama yang drop out, katakanlah siap bekerja sebagai pembantu di start up jumlahnya sudah berlebih. Di sisi ini persaingan sangat ketat, dan pekerjaan yang muncul berupa pekerjaan dengan upah rendah yang sering berada di bawah upah minimum. Bahkan banyak guru dan profesi serupa dibayar dengan setengah atau seperempat upah minimum.
Ragam pekerjaan terutama pertumbuhan pekerjaan berkualitas dan dibayar lebih baik jumlahnya sangat terbatas. Pertumbuhan ekonomi yang berasal dari pertumbuhan teknologi, penciptaan nilai tambah yang tinggi, pertumbuhan berkualitas ini masih sangat kurang. Pertumbuhan ekonomi banyak berasal dari eksploitasi sumber alam seperti tambang dan hutan. Pertumbuhan ekonomi kita mendorong struktur ekonomi makin elitis. Hal ini ditandai oleh merosotnya tabungan tabungan mayoritas rakyat yaitu 80 persen tidak memiliki tabungan atau memiliki tabungan di bawah sepuluh juta, sementara 1 persen teratas memiliki setengah dana simpanan bank.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Bila Mas Wapres Berkantor di PapuaKelompok menengah yang memiliki semangat maju dan perubahan kemampuan keuangan mereka merosot, tidak memiliki kemampuan membiayai perbaikan teknologi produksi UMKM. Pertumbuhan kekayaan kelompok terkaya sekitar 9 persen per tahun atau dua kali lipat angka pertumbuhan ekonomi dan artinya tentu saja menyedot kemampuan bawah. Singkat kata pertumbuhan ekonomi kita elitis dan salah arah. Tidak memecahkan masalah perbaikan ekonomi dan keuangan rakyat dan tidak memecahkan masalah pengangguran terutama membuka pekerjaan berkualitas yang dibayar dengan baik.(Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah)
(lam)