LANGIT7.ID, Badung - Kementerian Komunikasi dan Informastika (Kominfo) memfasilitasi masyarakat Indonesia untuk membangun startup digital melalui Gerakan Nasional 1000 Startup Digital. Langkah ini guna membuka peluang kepada calon founder tetap produktif di masa pandemi Covid-19.
Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, mengungkapkan bahwa saat ini sudah 85 ribu calon founder yang dilatih untuk mengembangkan ide dan kreatifitas membentuk perusahaan rintisan atau startup digital.
"Dan sekarang sudah ada 1.160 startup yang dibina lewat Gerakan Nasional 1000 Startup. Ini program awalnya kita dan di masa pandemi pun menjalankan sesuai dengan kondisi," kata Samuel dalam konferensi pers di Bali, seperti dikutip Ahad (26/9).
Baca juga:
23 Patriot Energi Terpilih untuk Terangi Desa dengan PLTSSemuel mengatakan jika Kominfo berupaya menjadikan Indonesia sebagai negara yang menguasai teknologi startup. Pihaknya pun akan meminimalisir segala permasalahan yang ada pada proses transformasi ke startup ini.
"Jadi kalau kita mau buat startup, kenali dulu permasalahannya baru kita cari solusinya. Makin banyak masalah itu dihadapi oleh masyarakat, semakin punya peluang untuk menjadi startup yang berkembang dengan pesat. Ini yang kita ingin kembangkan dan diharapkan nanti dengan pelatihan-pelatihan ini akan muncul startup-startup baru," jelasnya.
Founder & COO Xendit Tessa Wijaya selaku mitra kerja, mendukung penuh Gerakan Nasional 1000 Startup Digital tersebut. Menurutnya, program tersebut sejalan dengan perusahaan startup Xendit.
"Kami sangat bangga apalagi dari perusahaan kami telah menjadi unicorn terakhir di Indonesia dengan adanya pendanaan sebanyak USD150 Juta, yang didapatkan pada bulan ini juga. Jadi saya merasa bahwa Gerakan 1000 Startup ini sangat penting sekali untuk mendukung berbagai macam startup agar dapat berkembang di Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Chief Investment Officer BRI Ventures William Gozali, menyatakan pihaknya sangat optimistis melihat potensi ekonomi digital di Indonesia. Mengutip statistik sejak tahun 2019, William menunjukkan adanya pendanaan yang konsisten masuk ke Indonesia untuk startup rata-rata di atas USD3 Miliar.
"Bahkan di tengah pandemi pada tahun 2020, pendanaan tetap mengalir ke startup asal Indonesia. Di tahun 2021 dari data yang saya lihat sepanjang semester satu saja sudah ada 87 startup yang mendapatkan pendanaan. Jadi kalau sekarang mungkin sudah lebih dari 100 startup Indonesia, dan rata-rata secara kumulatif itu sudah lebih dari USD1 Miliar," kata William.
Melihat perkembangan tersebut, William menilai setiap tahunnya trend ekonomi digital meningkat. Termasuk data riset yang dikutip dari Google dan Temasek sepanjang tahun 2020 saat wabah pandemi, ekonomi digital di Indonesia tetap bertumbuh.
"Nilainya sekitar USD44 Miliar dan masih bertumbuh double digit. Jadi di Asia Tenggara yang bertumbuh double digital yaitu Indonesia dan Vietnam," paparnya.
Baca juga:
Pemerintah Tegaskan Vaksinasi Dosis Ke-3 Hanya untuk NakesSebagai informasi, Gerakan Nasional 1000 Startup Digital merupakan upaya mendorong perkembangan ekosistem startup digital untuk membawa dampak kesejahteraan masyarakat luas. Program itu terdiri atas enam tahapan, yaitu Ignition, Networking, Workshop, Hacksprint, Bootcamp, hingga Incubation.
Dengan menyelesaikan setiap tahapan, setiap calon founder yang menjadi peserta berkesempatan untuk dapat menghasilkan produk purwarupa atau yang disebut juga dengan minimum viable product (MVP). Harapannya, dari Gerakan Nasional 1000 Startup Digital ini akan lahir berbagai startup baru yang berdaya untuk memberi solusi bagi masyarakat.
Sejak 2016, Gerakan Nasional 1000 Startup Digital sudah menjaring lebih dari 85.000 calon pendiri startup dan merintis lebih dari 1.160 startup. Program ini juga telah melibatkan lebih dari 400 mentor dan 300 penggerak lokal dari berbagai bidang.
(sof)