LANGIT7.ID-Jakarta; Indonesia melakukan berbagai upaya untuk memitigasi dampak potensial dari kebijakan perdagangan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump sekaligus mempertahankan surplus perdagangan dengan AS, demikian disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso.
Dalam pertemuan dengan Duta Besar AS untuk Indonesia Kamala Shirin Lakhdhir di Jakarta pada Jumat (7/3), ia menyampaikan bahwa sebagai bagian dari upaya mitigasi, Indonesia berusaha tidak membuat kebijakan yang dapat merugikan ekspor domestik ke AS.
Selain itu, Indonesia dan AS akan segera menyelenggarakan pertemuan bisnis untuk menyelaraskan persepsi perdagangan.
"Kita harus mempertahankan pasar (AS) dengan tidak menghalangi produk mereka masuk ke Indonesia, agar akses pasar kita ke AS tidak terganggu," kata Santoso.
Ia menambahkan bahwa Indonesia dan AS sama-sama optimis bahwa kerja sama bilateral akan terus berjalan baik dan hubungan dagang akan membaik.
"Dubes (Lakhdhir) dan saya sepakat bahwa kita harus menjaga hubungan baik. Semoga kita tidak terdampak (oleh kebijakan perdagangan AS)," ujarnya.
Berdasarkan data pemerintah, AS masih menjadi penyumbang terbesar surplus perdagangan Indonesia, senilai US$16,84 miliar.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencananya untuk memberlakukan tarif 25% pada semua komoditas baja dan aluminium impor.
Administrasi Trump telah menerapkan tarif 10% pada barang-barang asal China. Sebagai respons, Beijing memberlakukan tarif tambahan 15% pada batu bara dan gas alam cair (LNG) dari AS.
Trump juga mengancam akan mengenakan bea masuk 100% pada barang dari negara-negara BRICS dan tarif 60% pada produk China, yang dapat memperburuk ketegangan geopolitik dan mengganggu rantai pasok global.
Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengatakan bahwa penyesuaian akan dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
"Jika memang harus ada penyesuaian dari sisi kebijakan, ya kita lakukan," tegasnya di Jakarta, Senin (10/2).
Ia meyakini bahwa dengan penyesuaian ini, keinginan pemerintah menciptakan lapangan kerja berkualitas di Indonesia dapat terwujud.
"Yang paling penting saya sampaikan adalah terciptanya lapangan kerja yang berkualitas," tambahnya.
Untuk menghadapi tarif perdagangan AS, lanjutnya, Indonesia harus lebih proaktif menarik minat investor, mengingat negara-negara di kawasan Asia Tenggara juga melakukan hal serupa.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencananya memberlakukan tarif 25% pada semua komoditas baja dan aluminium impor.
Administrasi Trump telah menerapkan tarif 10% pada barang asal China. Sebagai balasan, Beijing memberlakukan tarif tambahan 15% pada batu bara dan LNG dari AS.
Trump juga mengancam akan mengenakan bea masuk 100% pada barang dari negara BRICS dan tarif 60% pada produk China, yang berpotensi memicu ketegangan geopolitik dan mengganggu rantai pasok global(*/saf/antara)
(lam)