LANGIT7.ID-Jakarta; Thailand baru saja menggebrak pasar otomotif dengan langkah besar dari Honda. Setelah setahun debut di Bangkok International Motor Show (BIMS) 2023, Honda Thailand resmi mengumumkan bahwa SUV listrik Honda e:N1 kini bisa dibeli langsung oleh konsumen.
Pengumuman ini disampaikan pada gelaran BIMS 2024, menandai perubahan signifikan dari skema sebelumnya yang hanya menyediakan e:N1 melalui program leasing dengan tarif mulai 29.000 baht/bulan (sekitar Rp12,7 juta/bulan) bersama 12 penyedia rental mobil. Kini, masyarakat Thailand bisa memiliki unit ini dengan harga resmi 1,199 juta baht atau sekitar Rp530 juta, lengkap dengan garansi baterai dan sistem penggerak listrik selama 8 tahun atau 160.000 km.
Langkah ini menunjukkan komitmen Honda Thailand untuk memperluas akses kendaraan listrik ke konsumen umum, tak lagi terbatas pada skema sewa. Menariknya, unit yang dijual ternyata merupakan produk CBU (Completely Built-Up) yang diimpor langsung dari China, dirakit oleh Dongfeng Honda Automobile. Padahal, pada Desember 2023, Honda sempat mengumumkan produksi lokal e:N1 sudah dimulai di Rojana Industrial Park, Prachinburi, menjadikannya BEV pertama dari merek Jepang yang dirakit di Thailand. Keputusan impor ini cukup menimbulkan tanda tanya, tapi tak mengurangi antusiasme pasar Thailand terhadap SUV listrik berbasis Honda HR-V ini.
Sementara Thailand sudah melangkah jauh dengan penjualan langsung, bagaimana nasib Indonesia? Di Tanah Air, PT Honda Prospect Motor (HPM) masih mempertahankan pendekatan berbeda. Honda e:N1 hanya tersedia melalui skema sewa dengan biaya Rp22 juta per bulan selama lima tahun, plus opsi kepemilikan di akhir masa berlangganan.
Paket ini sudah termasuk home charger, portable charger, perawatan berkala, asuransi, pajak kendaraan, hingga layanan pelanggan. Meski garansi komponen EV dan baterai juga ditawarkan selama 8 tahun atau 160.000 km, plus layanan purna jual seperti perawatan gratis hingga 5 tahun atau 100.000 km, konsumen Indonesia belum bisa membeli e:N1 secara langsung seperti di Thailand.
Pertanyaannya kini: kapan Indonesia bakal menyusul langkah Thailand? Melihat perkembangan di Negeri Gajah Putih, harapan tentu muncul agar Honda Indonesia segera membuka opsi pembelian langsung untuk e:N1. Dengan pasar kendaraan listrik yang terus berkembang di Indonesia, ditambah insentif pemerintah untuk mendorong adopsi EV, langkah serupa bisa jadi peluang besar bagi Honda untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Untuk saat ini, kita hanya bisa menunggu kabar resmi dari HPM sambil melihat Thailand menikmati fleksibilitas kepemilikan e:N1 lebih dulu.
(lam)