LANGIT7.ID - Prof. Dr. Ahmad Syafi'i Maarif adalah salah satu cendekiawan muslim terbaik yang dimiliki oleh Muhammadiyah dan Bangsa Indonesia hari ini. Jika Nahdlatul Ulama punya Gus Dur sebagai Bapak Toleransi, Maka Muhammadiyah punya Syafi’i Maarif. Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta ini menjadi referensi banyak pihak dalam membahas toleransi dan perdamaian berlandaskan ajaran Islam.
Kendati merupakan seorang cendekiawan besar, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini adalah sosok yang luar biasa sederhana. Kesederhanaannya disaksikan oleh banyak orang terlebih tetangganya di Perumahan Nogotirto Elok II Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta.
Berdasarkan kesaksian salah satu tetangganya, Ahmad Muttaqin ‘Alim, Intelektual yang akrab disapa Buya Syafi’i ini selalu tampil dengan mengenakan celana sederhana yang bergonta-ganti warna, bahkan ada yang bertambal ditambah dengan setelan pakaian dengan model yang sederhana pula. Bahkan Buya juga sering menggunakan topi yang menurut penuturan ‘Alim adalah gratisan yang didapatkan dari sebuah lembaga.
Kesederhanaan ini terlihat jelas dalam foto yang dibagikan ‘Alim di Facebooknya. Tampak Buya mengenakan kaos dengan setelan celana training panjang, mengenakan topi juga selop.
![Ahmad Syafi'i Maarif, Cendekiawan Besar yang Luar Biasa Sederhana]()
“Tentu Buya punya baju batik yang bagus. Buya kalau pas acara resmi pakai batik dan peci agak tinggi tampak gagah dan parlente. Buya juga tidak kekurangan sampai ndak bisa beli baju, wong nyatanya mampu biayai banyak orang untuk sekolah bahkan sampai S3,” tutur ‘Alim di akun Facebooknya.
Di hari tuanya, Buya selalu mengerjakan pekerjaan rumah tangganya sendiri dengan ditemani istrinya. Tampak dalam postingan yang dibagikan ‘Alim pada 26 Mei lalu, Buya tampak menyapu daun kering di halaman dan menyiram tanamannya sendiri.
Belakangan diketahui, Buya sedang dalam masa pemulihan dari sakit dan baru menjalani operasi batu ginjal. Dalam keadaan kondisi badan tidak sehat ini, ‘Alim menuturkan mendapat kabar dari Umik, panggilannya kepada istri Buya.
“Hello, saya yang tetangga cukup dekat, mudah di WA, dokter pula. Kok ya Buya nggak kasih info sama sekali. Saya agak protes kok ya ndak diinfo atau dilibatkan membantu Buya. Tentu apa saja akan saya lakukan untuk membantu,” tutur ‘Alim di Facebooknya, 23 April lalu.
Sempat dinyatakan terinfeksi virus korona, Buya yang dikenal tidak mau merepotkan orang lain ini juga tidak memberikan kabar kepada orang terdekatnya. Termasuk ‘Alim tetangganya yang juga berprofesi sebagai dokter.
Menurut penuturannya, Buya Syafi'i memang tidak pernah mengambil hati terkait urusan pribadinya. Namun, Buya akan langsung bersiap ambil tindakan kepada mereka yang membutuhkan bantuannya. Kabar baik datang pada akhir Februari lalu, dimana Buya mengabarkan ‘Alim terkait kondisi kesehatannya yang saat itu sudah negatif dari virus korona.
“Semalam saya dapat info bahwa Buya sudah negatif. Alhamdulillah, lega rasanya. ‘Sudah negatif, Sabtu sonten, 20 Feb. sampun wangsul. Nuwun. Maarif, balas Buya. Lagi2 saya agak telat dapat info. Pun begitu, saya lega sekali,” tutur ‘Alim.
Perjalanan Intelektual, Dari Mekah Darat ke ChicagoAhmad Syafi'i Maarif lahir 31 Mei 1935, di sebuah rumah bertanduk khas Minang, di Calau, Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Dalam bukunya “Titik-titik Kisar di Perjalananku” Buya mengisahkan tidak banyak yang mengetahui daerah tempat kelahirannya ini. Sumpur Kudus atau yang diberi julukan Mekah Darat ini merupakan wilayah terpencil di Minangkabau yang secara historisnya pun hanya diketahui melalui cerita dari mulut ke mulut.
Di pelosok tempat terpencil inilah Buya Syafi'i dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya yang sebagian masyarakat di sana masih buta huruf. Betapa tidak, saat itu hanya ada Sekolah Rakyat (SR setingkat SD) yang bahkan tidak semua orang bisa menikmati pendidikan di sana.
Tamat dari SR, Buya Syafi’i masuk ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah di Balai Tangah, Lintau sampai duduk di bangku kelas tiga, meski sempat berhenti beberapa tahun karena alasan ekonomi. Tiga tahun menyelesaikan pendidikannya, sebagaimana anak Minangkabau yang terkenal suka merantau, Buya memutuskan meninggalkan kampung halamannya pada 1953 di usianya yang masih 18 tahun. Kakinya memilih Yogyakarta sebagai tempatnya berlabuh, di sini Buya melanjutkan pendidikannya di Madrasah Muallimin dan aktif dalam organisasi.
Saat melanjutkan sekolahnya di Yogyakarta, Buya Syafi'i secara aktif masuk ke dalam organisasi kepanduan Hizbul Wathan dan menjadi pemimpin redaksi majalah Sinar yang merupakan majalah pelajar, kini dibawahi Lembaga Pers Muallimin.
Karir kecilnya dimulai usai ia menyelesaikan pendidikannya pada 12 Juli 1956, Buya Syafi'i ditugaskan menjadi guru di Lombok Timur. Walaupun pengabdiannya hanya berlangsung selama setahun, ia kemudian kembali ke Pulau Jawa, tepatnya Surakarta untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Cokroaminoto dan berhasil meraih gelar sarjana muda pada 1964.
Tidak cukup sampai disitu, Buya yang sangat mementingkan pendidikan ini kembali melanjutkan pendidikannya di Fakultas Keguruan Ilmu Sosial di Universitas Negeri Yogyakarta dan selesai pada 1968.
Surakarta menjadi saksi perjalanan Buya memulai kembali perjalanan karir kecilnya. Selama melanjutkan pendidikannya, Buya Syafi'i bekerja sebagai guru mengaji hingga pelayan toko untuk menyambung hidup. Menjadi guru honorer dan berdagang kecil-kecilan pun sempat ia lakoni. Hingga sempat menjadi redaktur Suara Muhammadiyah dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia.
Bagi Buya Syafi'i, pendidikan merupakan suatu kepentingan dan kebutuhan bagi setiap orang. Usai meraih gelar Strata I nya, Buya Syafi'i melanjutkan pendidikannya dengan mengambil Program Master di Departemen Sejarah Universitas Ohio, AS pada 1980. Tidak tanggung-tanggung, tiga tahun setelahnya di 1983 ia juga melanjutkan pendidikannya di AS untuk gelar doktornya di Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago.
![Ahmad Syafi'i Maarif, Cendekiawan Besar yang Luar Biasa Sederhana]()
Buya Syafi'i menyebutkan, kejadian “cuci otak” terhadapnya ini terjadi di Chicago. Pandangan kritisnya soal keislaman pun mulai terasah dengan banyak membaca dan mengkaji Al-Quran. Saat itu, Muhammadiyah masih menekankan kepada amal saleh dan kurang menyoroti soal pemikiran.
Bahkan politik negeri saat itu, menurut cendekiawan ini, hanya menguras energi semata dan berakhir pada kegagalan. Berawal dari hiruk-pikuk pemikiran yang rumit itu, Buya Syafi'i tidak pernah menyesali perihal apa yang telah dialaminya selama ini. Menurutnya, proses dan perkembangan pemikiran tidak datang dengan tiba-tiba melainkan perlu adanya pancingan radikal dan serius yang secara intelektual bisa melahirkan pemikiran cerdas.
Tidak mulus pemikiran intelektual Buya Syafi'i lahir di Chicago. Mengingat kedua buah hatinya sudah terlebih dahulu meninggalkannya bahkan di usia yang masih bayi. Terlintas pikiran untuk mengobati rasa pilu dari istri yang ditinggal permata hatinya, sementara ia sendiri harus menuntut ilmu di tempat yang jauh dari tanah air di Chicago.
Akhirnya Buya memutuskan untuk mengajak istri dan seorang anaknya ke perantauannya di Chicago. Bukan hal mudah, Buya Syafi'i diberikan syarat dari Ford Foundation yang memberinya beasiswa untuk mengambil pendidikan di Chicago, bahwa pada semester pertama ia harus mendapatkan torehan nilai A untuk semua mata kuliah yang ia ambil, jika ingin mengajak keluarganya dan dibiayai oleh Ford Foundation.
Di sinilah Buya Syafi'i yang tidak lagi muda, memaksa otaknya untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Demi keluarga, pendidikan, dan nilai A di setiap mata kuliahnya.
Bukan keajaiban yang saat itu diharapkannya untuk datang, melainkan keluarganya agar bisa ikut ke Chicago dan tinggal bersamanya. Perjuangan melahirkan pemikiran yang intelek ini memang pada dasarnya memerlukan tekanan dan paksaan untuk bisa mencapai suatu target yang diinginkan.
Satu semester berlalu, Buya Syafi'i mendapatkan kabar baik. Pertama, ia berhasil mendapatkan nilai A di setiap mata kuliahnya. Kedua, sesuai perjanjian, dengan ini Buya dapat mengajak keluarganya ke Chicago dengan biaya yang ditanggung oleh Ford Foundation.
Beralih dari urusan keluarganya, Buya Syafi'i kembali fokus kepada urusan pendidikannya. Saat di Chicago ini, Islam baginya merupakan sumber moral utama dan pertama. Kitab suci Al-Quran buatnya merupakan sebuah benang merah pandangan dunia yang menjadi pedoman dan acuan tertinggi dalam segala hal, termasuk urusan politik.
Pemikirannya tentang Islam yang mendapat perkembangan intelektual ini tidak hanya mengenai teori kekuasaan, tetapi juga menyangkut urusan toleransi inter dan antar agama. Bahkan, dalam urusan toleransi, Buya Syafi'i memiliki pemikiran yang mungkin bisa menjadi jawaban dan contoh terhadap makna dari toleransi itu sendiri. Ia menyebutkan, jika Islam merupakan pilihan yang terbaik dan terakhir baginya, maka hak sama juga harus diberikan secara penuh kepada siapa saja yang mempunyai keyakinan selain itu.
Menurutnya, jika ada gerakan agama dan politik yang ingin mengusir pihak lain dari muka bumi, maka mereka merupakan musuh peradaban dan kemanusiaan yang harus dilawan, apapun agama dan kepercayaannya.
(jqf)