Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Kontribusi Kolektif Masyarakat dan Pemuda, Fondasi Indonesia Emas 2045

tim langit 7 Jum'at, 02 Mei 2025 - 22:27 WIB
Kontribusi Kolektif Masyarakat dan Pemuda, Fondasi Indonesia Emas 2045
LANGIT7.ID-Jakarta; Ketika membicarakan masa depan Indonesia, tidak cukup hanya melihat peran negara. Pendidikan berkualitas dan hadirnya pemuda yang memiliki integritas menjadi dua elemen vital yang harus dibangun bersama oleh seluruh elemen masyarakat. Visi Indonesia Emas 2045 tak akan menjadi kenyataan jika bangsa ini gagal mencetak generasi muda yang terdidik dan berkarakter.

Pemuda tidak bisa hadir tiba-tiba sebagai agen perubahan. Mereka perlu ditempa melalui proses panjang yang melibatkan sistem pendidikan yang adil, aksesibel, dan bermutu. Tak hanya pendidikan formal, tetapi juga pendidikan nonformal, pelatihan, dan pembinaan karakter yang ditanamkan oleh organisasi kemasyarakatan maupun lingkungan sosial.

Baca juga: Menilik Sejarah Hari Pendidikan Nasional, Mengapa Pada 2 Mei?

“Pemuda Negarawan sejatinya adalah refleksi panjang atas perjalanan bangsa Indonesia. Apa yang telah dilakukan oleh para pemuda pra kemerdekaan seperti Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir dan tokoh pemuda semasanya, serta gerakan yang dimotori kaum muda seperti Sumpah Pemuda mengilhami rumusan visi Pemuda Negarawan,” ujar Dzulfikar Ahmad Tawalla, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah.

Banyak dari tokoh pendidikan nasional justru memulai langkah besarnya saat usia muda. Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa di usia 33 tahun, usia yang sama dengan Mohammad Sjafii ketika merintis INS Kayu Tanam. Sementara Kiai Ahmad Dahlan memulai pendidikan Muhammadiyah pada usia 43 tahun. Fakta ini menegaskan bahwa perubahan besar dalam dunia pendidikan justru lahir dari semangat pemuda.

Namun, pendidikan tidak bisa dijalankan hanya oleh guru dan sekolah. Anak-anak belajar bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga dari apa yang mereka lihat di luar. Ketika guru menanamkan nilai kejujuran di sekolah, namun anak-anak melihat tokoh publik yang justru memamerkan praktik korupsi, maka pendidikan karakter kehilangan makna. Tokoh masyarakat, publik figur, bahkan politisi, semuanya harus ikut serta menjadi teladan.

“Pemuda Negarawan adalah mereka para pemuda yang memiliki tanggung jawab kepada bangsa dan negaranya, meletakkan kepentingan umum (bangsa dan negara) di atas kepentingan yang lain,” ungkap dia.

Pendidikan bermutu juga harus merata, tidak boleh menjadi hak eksklusif bagi kelompok tertentu. Anak-anak dari semua lapisan sosial harus bisa mendapatkan akses yang sama, tanpa diskriminasi, tanpa memperhitungkan suku, latar ekonomi, bahkan kondisi fisiologis dan psikologis mereka. Artinya, pendidikan harus inklusif dan adaptif terhadap keragaman Indonesia.

Pemuda Muhammadiyah sebagai organisasi kader telah menjawab tantangan ini. Dengan empat pilar gerakan — Islam berkemajuan, keilmuan atau intelektual, politik kebangsaan, dan kemandirian melalui kewirausahaan sosial — mereka aktif mendidik kader-kadernya untuk menjadi pemimpin muda yang solutif, bukan sekadar simbol kehadiran dalam dinamika bangsa.

Pendidikan berkualitas bukan sesuatu yang baru di negeri ini. Sejak sebelum kemerdekaan, masyarakat telah membangun institusi pendidikan seperti pesantren, INS Kayu Tanam, Taman Siswa, dan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Namun, di era otonomi daerah seperti sekarang, kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat menjadi keharusan untuk memperluas jangkauan dan kualitas pendidikan.

“Partisipasi semesta mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua” bukan sekadar tema peringatan Hari Pendidikan Nasional. Ia adalah panggilan tanggung jawab bersama. Kebijakan pemerintah pusat akan percuma jika tidak dijalankan oleh pemerintah daerah, dan juga tidak didukung masyarakat. Karena itu, pendidikan adalah kerja kolektif.

Dalam konteks inilah tema milad ke-93 Pemuda Muhammadiyah, “Pemuda Negarawan, Totalitas untuk Indonesia Raya” menemukan maknanya. Pemuda tidak boleh sekadar aktif di organisasi untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya, tapi harus berkontribusi nyata dalam menyelesaikan masalah bangsa dengan dedikasi dan integritas tinggi.

Hari Pendidikan Nasional dan Milad Pemuda Muhammadiyah yang jatuh pada tanggal 2 Mei menjadi momentum tepat untuk menyatukan visi: mencerdaskan kehidupan bangsa dengan partisipasi semesta. Sebab seperti kata Aristoteles, “Apa yang terjadi pada masyarakat masa kini merupakan dampak dari pendidikan yang diperoleh kaum muda masa lampau.”

Dan jika kita ingin Indonesia menjadi “baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur” pada 2045, maka tidak ada pilihan lain selain memastikan bahwa setiap anak negeri, tanpa terkecuali, mendapatkan pendidikan terbaik yang bisa diberikan bangsa ini.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Selamat Milad ke-93 Pemuda Muhammadiyah. Mari jadikan pemuda sebagai solusi, bukan beban, bagi masa depan Indonesia Raya. (Irwan Akib / Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)