LANGIT7.ID–Jakarta; Generasi Indonesia menuju 2045 dinilai masih menghadapi tantangan serius di bidang pendidikan. Bukan semata soal kualitas pembelajaran, namun pada persoalan paling mendasar: kerangka berpikir pendidikan yang masih terpisah antara agama dan umum. Dalam Seminar Internasional “Membangun Generasi Emas Indonesia 2045” di Jakarta, Kamis (27/11), Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, menekankan bahwa sistem pendidikan nasional belum berjalan dalam satu pandangan yang utuh.
Menurutnya, dualisme pendidikan telah membuat proses belajar kehilangan fondasi yang menyatukan nilai ilahi, kemanusiaan, dan kehidupan dunia secara selaras. Jika kondisi ini dibiarkan, generasi yang lahir dari sistem tersebut berpotensi tumbuh dengan karakter yang tidak seimbang, sulit memahami hubungan antara nilai moral, tujuan hidup, dan kemajuan material.
Fathurrahman menegaskan bahwa keberlanjutan pembangunan Indonesia tidak hanya bertumpu pada kemampuan teknis dan produktivitas, tetapi pada cara generasi muda memahami dirinya dalam relasi dengan Tuhan, masyarakat, dan alam. Ketidakutuhan cara pandang ini, kata dia, dapat berakibat pada arah pembangunan yang rapuh secara nilai.
Ia menyebut perlunya perubahan besar dalam struktur kelembagaan pendidikan. Bagi Fathurrahman, pemisahan pendidikan agama dan pendidikan umum di dua kementerian membuat paradigma bangsa semakin menjauh dari prinsip kesatuan ilmu. Model seperti ini, jelasnya, tidak akan mampu membentuk manusia Indonesia yang utuh.
“Saya pikir Indonesia perlu mengambil paradigma yang tauhidi – yang integralistik, bahwa ketika orang berbicara Tuhan dia berbicara manusia. Ketika orang berbicara surga dia juga sekaligus berbicara dunia. Bahwa akhirat bukan sesuatu yang sifatnya imajiner tapi akhirat adalah sesuatu yang bisa dibumikan secara nyata dalam kemaslahatan publik dan individual,” katanya dalam keterangan resmi, Jumat (28/11/2025).
Dengan sudut pandang yang terbelah, Fathurrahman melihat dunia pendidikan kini mengalami the lost of worldview. Ia menilai proses sekularisasi berjalan begitu kuat hingga hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam tidak lagi dilihat sebagai kesatuan. Guru-guru pun, lanjutnya, tidak lagi menghasilkan manusia dengan karakter yang menyeluruh.
“Kita mengalami apa yang disebut proses sekularisasi yang luar biasa….. Kita mengalami dikotomi ini semuanya, sehingga paradigma berpikir – termasuk guru-guru kita itu tidak melahirkan manusia yang utuh,” imbuhnya.
Ia mengingatkan bahwa kerusakan paradigma bukan hanya memengaruhi perilaku individu, tetapi juga memunculkan pemimpin yang tidak memiliki adab. Minimnya kesadaran dalam menempatkan diri di hadapan Tuhan, rakyat, dan alam dapat membuat pemimpin kehilangan rasa welas asih dalam mengambil keputusan.
Selain itu, ia mengkritik produk teknologi masa kini yang sering kali justru menghancurkan lingkungan. Tanpa paradigma yang benar, kemajuan teknologi tidak menghasilkan kebermanfaatan, melainkan merusak tatanan alam yang semestinya dijaga.
Menuju Generasi Emas 2045, Fathurrahman berharap lahir generasi yang tidak hanya unggul secara keterampilan, tetapi juga memiliki perhatian sosial. Ia menilai kepedulian menjadi kebutuhan penting di tengah menguatnya budaya individualistik dan orientasi material yang makin ekstrem.
(lam)