LANGIT7.ID-Kairo; Tiga jamaah haji asal Spanyol yang menunaikan ibadah haji di Arab Saudi melakukan perjalanan ke Mekah dengan menunggang kuda, menempuh ribuan kilometer melintasi salju dan hujan serta melalui jalur yang mereka klaim belum dilalui selama lebih dari 500 tahun.
Abdelkader Harkassi Aidi, Tarek Rodriguez, dan Abdallah Rafael Hernandez Mancha memulai perjalanan dari Spanyol selatan pada Oktober, melintasi Prancis, Italia, Slovenia, Kroasia, Bosnia, Serbia, Bulgaria, Turki, Suriah, dan Yordania sebelum tiba di Arab Saudi pada Mei.
Momen yang penuh emosi bagi ketiganya ketika mereka akhirnya mencapai Mekah. Menurut mereka, tidak ada jamaah haji yang menempuh rute ini sejak tahun 1491.
Harkassi mengatakan kelompoknya menempuh jarak sekitar 8.000 kilometer (hampir 5.000 mil) dari Spanyol sebelum akhirnya tiba di Ka'bah, struktur kubus hitam di Masjidil Haram, Mekah.
"Kami telah melewati ribuan kilometer untuk sampai ke sana, dan Allah mengabulkan keinginan kami," katanya kepada The Associated Press pada Kamis dari Arafah, sebelah tenggara Mekah. "Kami berada di depan Ka'bah dan mendapat kesempatan untuk menyentuhnya. Jadi, 8.000 kilometer itu menjadi tidak berarti."
Selama perjalanan berbulan-bulan itu, mereka melewati pemandangan alam yang indah dan situs bersejarah di Suriah, termasuk Benteng Aleppo dan Masjid Umayyah.
Mereka juga menemukan rel kereta api tua yang dibangun pada masa Kekaisaran Ottoman, menghubungkan Istanbul dengan Arab Saudi. Mereka mengikuti rel itu selama berhari-hari untuk memandu mereka menuju kerajaan gurun tersebut.
Namun, perjalanan itu juga penuh tantangan. Kuda-kuda mereka sempat hilang di Bosnia, hanya untuk ditemukan kembali di zona ranjau darat. Tidak ada yang bisa mengambil kuda-kuda itu karena adanya bahan peledak, tetapi akhirnya hewan-hewan itu keluar dari area tersebut tanpa cedera, kata Harkassi.
Dia menambahkan, interaksi dengan manusia selama perjalanan menjadi hal paling berharga bagi timnya.
"Ketika kami tidak memiliki apa-apa, orang-orang membantu kami dengan kuda, dengan makanan, mereka memberi kami uang. Ketika mobil pendukung kami rusak, mereka memperbaikinya untuk kami," ujar Harkassi. "Orang-orang luar biasa. Saya pikir ini bukti bahwa umat Muslim bersatu, bahwa satu ummah (bangsa) yang didambakan setiap Muslim adalah kenyataan."(*/saf/ap)
(lam)