LANGIT7.ID-, Jakarta - - Masyarakat di Indonesia mempunyai beberapa tradisi menyambut jamaah
haji pulang.Di sejumlah daerah di Indonesia, jamaah yang baru pulang berhaji akan menggelar acara tasyakuran. Umumnya para tamu akan mendapatkan oleh-oleh dari Tanah Suci seperti
tasbih,
sajadah,
air Zamzam,
kurma dan lainnya.
Lalu, bagaimana tradisi pulang haji di Arab Saudi sendiri?
Baca juga: Tasyakuran Pulang Haji, Bagaimana Hukumnya?Dilansir Arab News, Sabtu (14/6/2025), sama halnya dengan Indonesia, jamaah haji Arab Saudi juga memberi
hadiah atau disebut hadiyat al-hajj.
Bagi banyak orang, ini adalah ungkapan keimanan, rasa syukur, dan cinta.
Namun ada pergeseran definisi tradisi ini di generasi baru perempuan Saudi. Meski oleh-oleh klasik seperti air Zamzam dan kurma menjadi hal penting, oleh-oleh yang kekinian melibatkan detail yang menanamkan semangat kreatif.
Seperti kemasan khusus hingga barang-barang simbolis dari tulisan tangan. Sehingga menjadikan hadiah haji lebih dari sekedar kenang-kenangan, tapi kelanjutan dari
perjalanan spiritual itu sendiri.
“Saya tidak ingin sekadar memberikan sebotol plastik kepada seseorang dan berkata, ‘Saya pergi’,” kata Nawal Al-Subaie, berusia 30 tahun.
“Jadi, saya menyiapkan bungkusan kecil berisi air Zamzam, tasbih berukir, dan kartu doa tulisan tangan untuk setiap teman. Itulah cara saya memberi tahu mereka tentang pengalaman ini.”
Baca juga: Catatan Haji: Ketika Kesalehan Tak Berakhir di Tanah SuciHadiah-hadiah kekinian ini lebih mengandung makna simbolik, misalnya parfum yang mengingatkan suasana Arafah, kartu doa yang menggambarkan saat-saat hening di Muzdalifah, atau label sederhana bertuliskan “
Haji Mabroor” dalam kaligrafi yang digambar tangan.
Barang-barang tersebut dipilih dengan detail, yang mewakili momen-momen para
jamaah haji.
Bagi Dana Al-Hamdan, 26 tahun, cara paling ampuh untuk melestarikan nuansa haji adalah melalui gambar.
Alih-alih memberikan hadiah tradisional, ia mencetak foto-foto film instan yang diambilnya selama haji, yang diberi label dengan tanggal dan waktu.
"Saya memberikannya kepada saudara kembar saya," katanya. "Satu dari
Arafat sebelum
Maghrib, yang lain saat saya tiba di
Mina. Foto-foto itu tidak dibuat-buat — foto-foto itu mentah dan personal."
Beban emosional dari gestur itu bertahan jauh melampaui pertukaran foto.
"Ia menyimpan satu foto di dompetnya dan yang lainnya di mejanya," kata Al-Hamdan.
Baca juga: Haji dan Jalan Pulang Menuju Allah: Titik Awal, Bukan Titik AkhirPendapat baru tentang hadiyat al-hajj ini menjadi tren di platform media sosial seperti Instagram dan TikTok.
Video-video menunjukkan segala hal mulai dari kotak hadiah bertema haji dan pembatas buku Al-Qur'an yang dipotong laser hingga kantong buatan tangan, minyak wangi, dan kenang-kenangan.
Namun, ini bukan tentang kemewahan atau performa; ini tentang perhatian.
Banyak wanita menyiapkan hadiah dalam suasana yang tenang dan penuh perenungan.
Sebagian menambahkan doa atau ayat. Yang lain menyiapkan barang berdasarkan makna pribadi, seperti doa untuk kesembuhan, ayat untuk kesabaran, atau benda yang melambangkan kekuatan.
Latifa Al-Dossari, 27 tahun, membuat set tasbih dan menaruhnya di dalam tas beludru kecil, beserta catatan yang menggambarkan perasaan di hari haji.
"Rasanya seperti menulis surat kepada seseorang dari Mina," katanya.
Apa yang terjadi dengan hadiah-hadiah ini merupakan bagian dari gerakan yang lebih besar, pergeseran ke arah bentuk spiritualitas yang lebih ekspresif dan jujur secara emosional.
Baca juga: 5 Cara Jaga Kemabruran Haji: Tingkatkan Kepedulian Sosial hingga Perkuat KeimananBagi banyak perempuan Saudi, terutama yang lebih muda, haji bukan hanya sekadar ritual untuk dipenuhi, tetapi juga kenangan untuk dibagikan, kesaksian yang mengundang orang lain untuk turut serta.
Sebagian orang melihat hadiyat al-hajj sebagai kenang-kenangan, sebagian lainnya melihatnya sebagai pernyataan diam-diam.
"Aku mengingatmu," kata mereka."Aku membawa namamu. Ini bukan perjalanan yang kutempuh sendirian."
Keindahan sejati dari tradisi ini terletak pada energi tak terucap yang melingkupinya.
Ini bukanlah kenang-kenangan yang diproduksi secara massal, ini adalah hadiah yang menyimpan waktu, niat, dan doa.
(est)