LANGIT7.ID–Jakarta; PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) kembali menunjukkan peran strategisnya sebagai garda terdepan pengembangan ekonomi syariah nasional. Kali ini, BSI menjadi destinasi studi banding mahasiswa Melbourne University yang tengah menimba ilmu ekonomi melalui program kerja sama dengan Universitas Indonesia. Ketertarikan para mahasiswa asing terhadap sistem keuangan syariah Indonesia menjadi bukti bahwa sistem ini semakin diakui ketangguhannya di tengah tantangan global.
Wakil Direktur Utama BSI Bob T. Ananta menyatakan, “Kami menyambut baik minat para mahasiswa asing untuk mengetahui seluk beluk industri keuangan syariah. Yang mana BSI juga lahir atas dukungan pemerintah yang serius mendorong kemajuan ekonomi nasional melalui sistem keuangan syariah yang halal, modern, digital dan inklusif,” ujar dia dalam keterangannya, Rabu (16/7/2025).
BSI sebagai bank syariah terbesar di Tanah Air tak hanya menjalankan fungsi perbankan pada umumnya, namun juga mengedepankan peran sebagai Sahabat Finansial, Sosial & Spiritual. Melalui positioning ini, BSI bukan hanya menjadi solusi keuangan syariah yang kompetitif, tetapi juga hadir dalam peran sosial dan spiritual, di antaranya melalui program zakat perusahaan.
Dalam forum diskusi bersama mahasiswa Melbourne University, BSI memaparkan fungsi bank syariah sebagai lembaga intermediasi yang menghimpun dana pihak ketiga sekaligus menyalurkan pembiayaan secara sehat dan berkelanjutan. Pendekatan ini dinilai unik dan visioner oleh para peserta studi banding.
Tak hanya unggul secara konsep, kinerja BSI pun membuktikan keunggulan sistem syariah dalam menghadapi kondisi ekonomi global yang fluktuatif. Hingga Maret 2025, aset BSI tercatat mencapai Rp401 triliun atau tumbuh sebesar 12% secara tahunan. Dana zakat yang disalurkan pun telah memberi manfaat langsung bagi lebih dari 225 ribu penerima, terutama di sektor pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
BSI juga menunjukkan komitmen nyata dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia. Merujuk data OJK, indeks literasi syariah baru mencapai 43,42%, sementara tingkat inklusi baru menyentuh 13,41%. Untuk menjawab tantangan ini, BSI aktif menggelar berbagai program edukasi, seperti “CEO Mengajar” di universitas top Indonesia, partisipasi di ajang ISEF yang digagas Bank Indonesia, serta SYAFIF oleh OJK.
Pendidikan menjadi titik tumpu penting bagi BSI. Sejak 2021, BSI telah menyalurkan 8.616 beasiswa berprestasi kepada mahasiswa tidak mampu dan mahasiswa unggul lewat program BSI Scholarship. Beasiswa ini bukan sekadar bantuan finansial, melainkan investasi untuk mencetak pemimpin muda berakhlak dan berintelektual tinggi.
Bob menambahkan, “Setiap tahun, kami tidak hanya menerima mahasiswa, tetapi juga profesional, akademisi, dan regulator dari berbagai negara untuk berbagi dan membuka kolaborasi pemahaman tentang keuangan syariah.”
Untuk memastikan kualitas sumber daya manusia internal tetap unggul, BSI juga memberikan kesempatan kepada pegawai untuk menempuh pendidikan lanjutan di Top 10 universitas dunia, termasuk di Australia yang menjadi destinasi favorit.
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa juga diperkenalkan pada nilai-nilai maqashid syariah sebagai pondasi dari seluruh aktivitas bisnis BSI. Komitmen terhadap ESG (Environmental, Social, and Governance) turut menjadi pilar penting yang mendukung keberlanjutan BSI, terdiri atas tiga elemen utama: Sustainable Banking, Sustainable Operation, dan Sustainability Beyond Banking.
Dengan pengalaman dan dedikasi tersebut, tak heran jika BSI kini menjadi referensi utama bagi kalangan akademisi internasional yang ingin memahami lebih dalam praktik keuangan syariah yang resilien, modern, dan inklusif.
(lam)