LANGIT7.ID-Jakarta; Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan tidak bisa dilakukan secara serampangan atau hanya bersifat karitatif. Ia menyoroti pentingnya kerangka struktural dan kesadaran atas waktu dalam membangun sistem ekonomi yang inklusif.
"Pengentasan kemiskinan itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri... tapi secara sistemik kita akan berbicara," ujarnya dalam Diskusi Al-maun Economic Forum, melalui webinar, Kamis (24/7/2025).
Budiman menyampaikan bahwa program bantuan sosial seperti conditional cash transfer atau BLT sangat bermanfaat dalam konteks tertentu, terutama saat kesenjangan sosial sangat tinggi. Ia mencontohkan keberhasilan program Bolsa Familia di Brasil, yang memberi insentif uang kepada warga miskin asal bersedia menyekolahkan anak atau datang ke posyandu.
Namun, ia menekankan bahwa setiap kebijakan harus disesuaikan dengan ruang dan waktu yang tepat. "Kebaikan di sebuah tempat, di sebuah waktu tidak bisa menjadi baik juga di tempat dan waktu yang lain," katanya.
Menurut Budiman, kemiskinan bukan hanya soal uang tunai, tapi juga keterbatasan pada dua hal lain. "Miskin itu kurang aset, kurang akses, dan kurang uang cash, kurang uang tunai," tegasnya.
Ia sempat membandingkan kekuatan dua organisasi besar Islam di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Dalam pengamatannya, NU memiliki keunggulan dari sisi aset, sementara Muhammadiyah unggul dari sisi akses dan pengelolaan secara dinamis.
"Amal usaha, ada amal, ada usaha, ada entrepreneurship. Entrepreneurship kewirausahaan artinya membutuhkan umat yang berani ambil resiko, berani inovatif, dan bersikap profesional," ujar Budiman.
Dengan kombinasi antara aset, akses, dan manajemen keuangan tunai yang baik, menurutnya rakyat miskin dapat didorong menuju kemandirian ekonomi.
"Jadi bagi kami, mengentaskan kemiskinan adalah mengembangkan aset, akses, dan uang cash untuk orang miskin," pungkasnya.
(lam)