LANGIT7.ID-, - Film
the Voice of Hind Rajab menerima
standing ovation selama 23 menit di penayangan perdana di Festival Film Venesia. Ini menjadi tepuk tangan terlama sepanjang sejarah festival tersebut.
The Voice of Hind Rajab mengisahkan tentang permohonan terakhir seorang gadis Gaza berusia lima tahun, Hind Rajab yang dibunuh secara brutal oleh pasukan Israel di Gaza.
Baca juga: 5 Film Palestina di Netflix yang Bisa Temani Akhir PekanPada pemutaran perdananya, Rabu (3/9/2025), dokudrama emosional ini berfokus pada rekaman telepon milik Bulan Sabit Merah Palestina.
Rana Faqih, petugas di pusat panggilan darurat
Bulan Sabit Merah Palestina, selama berjam-jam berusaha menenangkan Rajab yang terjebak di dalam mobil tempat bibi, paman, dan tiga sepupunya tewas akibat tembakan Israel.
Dalam rekaman asli yang diambil dari serangan pada 29 Januari 2024, Rajab terdengar terisak-isak dan berkata kepada Bulan Sabit Merah, "Tolong datanglah padaku, tolong datanglah. Aku takut," sementara suara tembakan terdengar di latar belakang.
Setelah menunggu tiga jam, tim penyelamat diizinkan oleh
militer Israel untuk mengirimkan ambulans ke mobil tempat Rajab berbicara.
Namun, kontak dengan gadis itu terputus tepat setelah ambulans tiba.
Beberapa hari kemudian, jenazah Rajab ditemukan bersama kerabatnya. Jenazah dua petugas ambulans, yang tewas saat mencoba menyelamatkan Rajab, juga ditemukan di kendaraan yang telah hancur.
Dilansir Al Jazeera, Jumat (5/9/2025), sutradara film dokudrama tersebut, Kaouther Ben Hania, yang berkebangsaan Prancis-Tunisia, mengaku kecewa dengan pemberitaan media tentang mereka yang meninggal di Gaza adalah "kerusakan tambahan".
Baca juga: Aktor M. Cholidi Dorong Dai Muda Kuasai Media Digital dan Film untuk Dakwah Efektif"Dan saya pikir ini sangat tidak manusiawi, dan itulah mengapa sinema, seni, dan segala bentuk ekspresi sangat penting untuk memberikan suara dan wajah kepada orang-orang tersebut," kata Ben Hania.
Ibu Rajab, Wissam Hamada, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa ia berharap film ini dapat membantu mengakhiri perang.
"Seluruh dunia telah meninggalkan kami untuk mati, kelaparan, hidup dalam ketakutan, dan terpaksa mengungsi tanpa melakukan apa pun," kata Hamada kepada AFP melalui telepon dari Kota Gaza.
Pada Juni 2024, Fault Lines Al Jazeera bekerja sama dengan kelompok investigasi nirlaba Forensic Architecture dan Earshot, menyelidiki insiden tersbut dan mengungkapkan bahwa sebuah tank Israel hanya berjarak 13 hingga 23 meter (42 hingga 75 kaki) ketika melepaskan tembakan ke mobil Rajab.
Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Juli 2024 menemukan, dengan mengutip analisis forensik, bahwa mobil Rajab ditembak dari "jarak yang sangat dekat menggunakan jenis senjata yang hanya dapat dikaitkan dengan pasukan Israel".
Sementara militer Israel mengatakan pasukannya tidak berada dalam jarak tembak mobil yang ditumpangi Rajab. Kemudian militer Israel menyatakan bahwa insiden itu masih dalam peninjauan dan menolak berkomentar lebih lanjut. (Aljazeera/es).
Baca juga: Kolaborator Film 'No Other Land', Odeh Hathalin Tewas Dibunuh Israel(est)