LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Aksi demo yang dinamai
"Block Everything" dilakukan secara masif di
Prancis. Para pengunjuk rasa memblokir jalan raya, membakar barikade, dan bentrok secara sporadis dengan polisi pada Rabu (10/9). Aksi ini sebagai bentuk kemarahan terhadap
Presiden Emmanuel Macron, elite politik, dan rencana pemotongan anggaran.
Pihak berwenang mengerahkan lebih dari 80.000 personel keamanan di seluruh negeri, menyingkirkan penghalang dan menyemprotkan selang air ke arah demonstran sementara ketegangan meningkat di beberapa tempat.
Di Paris, polisi anti huru hara secara berkala menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa dan hampir 200 orang ditahan di ibu kota.
Gerakan "Block Everything", sebuah ekspresi ketidakpuasan yang meluas di media sosial—muncul secara daring pada bulan Mei di kalangan kelompok sayap kanan, tetapi sejak itu telah diadopsi oleh kelompok kiri dan sayap kiri ekstrem.
Kerusuhan ini memperparah gejolak politik di hari ketika Sebastien Lecornu yang konservatif dilantik sebagai perdana menteri baru Presiden Emmanuel Macron, setelah pendahulunya digulingkan oleh parlemen karena rencananya yang tidak populer untuk pemotongan anggaran yang tajam.
Baca juga: Presiden Emmanuel Macron Pastikan Segera Tunjuk Perdana Menteri Baru"Ini masalah yang sama; masalahnya sama saja, Macron-lah yang bermasalah, bukan para menteri," kata Fred, seorang pengurus serikat pekerja CGT di perusahaan transportasi umum Paris, RATP. "Dia harus mundur." Mengutip Reuters, Kamis (11/9/2025).
Prancis berada di bawah tekanan untuk menurunkan defisit anggaran yang hampir dua kali lipat batas 3% Uni Eropa, dan tumpukan utang yang setara dengan 114% PDB.
Di Paris, para pelajar dan anak-anak usia sekolah turut serta dalam aksi protes. Lebih dari 300 pengunjuk rasa ditangkap di seluruh negeri, meskipun banyak demonstrasi berlangsung damai.
Hampir 200.000 orang di seluruh Prancis berpartisipasi dalam gerakan tersebut, sebuah mobilisasi yang digambarkan oleh Menteri Dalam Negeri Bruno Retailleau sebagai realita, meskipun ia menambahkan bahwa "mereka yang ingin memblokir negara gagal melakukannya."
Gerakan ini mencerminkan kemarahan terhadap apa yang disebut para pengunjuk rasa sebagai elit penguasa yang disfungsional dan bertekad untuk melakukan penghemata. Ketidakpuasan semakin mendalam setelah pemerintah sebelumnya mengusulkan pemotongan anggaran pemerintah sebesar 44 miliar euro (USD52 miliar).
Baca juga: Presiden Emmanuel Macron Umumkan Prancis Akan Mengakui Negara PalestinaDi luar stasiun kereta Gare du Nord di Paris, ratusan pemuda meneriakkan slogan-slogan anti-Macron. Salah satu dari mereka membawa plakat berbendera Triwarna dan slogan "Republik Elit Kaya".
"Kami datang untuk bersuara," kata Emma Meguerditchian (17) mahasiswi Sorbonne.
"Kami ingin mereka tahu bahwa kami tidak tahan lagi dengan situasi ini, kami menginginkan pemerintahan yang berbeda." (*/lsi/reuters)
(lsi)