LANGIT7.ID, Jakarta - Hari ini tanggal 5 Oktober 2021 ditetapkan sebagai hari ulang tahun TNI yang ke-76. Tema yang diambil pada perayaan HUT tahun ini adalah 'Bersatu, Berjuang Kita Pasti Menang'.
Anggota TNI pada umumnya dikenal karena ketegasan dan kewibawaannya. Namun berbeda dengan profil yang akan dikupas pada kesempatan kali ini, seorang anggota TNI yang juga pandai berdakwah dan memiliki ilmu pemahaman islam yang mumpuni.
Baca Juga: HUT Ke-76, TNI Diingatkan MPR soal Ancaman Perang IdeologiKolonel Sus Dr. H.M. Kemalsyah M.Ag, seorang anggota TNI angkatan udara yang lahir dari ayah yang juga seorang militer di TNI AU, dan seorang ibu yang berasal dari keturunan ulama.
Kemalsyah yang lahir pada 3 Mei 1966, belajar banyak tentang Islam mulai sejak usia 4 tahun, saat dirinya tinggal di rumah kakek dari ibunya di Bandung.
Sempat terpisah dengan kakeknya saat kelas 3 SD, karena Ayahnya yang pindah tugas, Kemalsyah akhirnya kembali lagi ke Bandung saat kelas 6 SD dan melanjutkan belajar agama Islam dari sang kakek. Kebersamaan dengan kakek rupanya hanya 5 tahun saja, sang kakek meninggal dunia saat Kemalsyah duduk di bangku kelas 1 SMA.
Kemalsyah ternyata dari kecil sudah haus akan ilmu, selain ketekunannya di dunia pendidikan formal umum, kemal juga sering mencari kajian ilmu di beberapa pesantren. Bahkan dirinya beberapa kali izin sekolah hanya untuk menuntut ilmu dari KH. Abuya Armin di Pesantren Cibuntu, Pandeglang, Banten, dan juga KH. Nu'man di pesantren Dandeur, Indihiyang, Tasikmalaya, dan KH. Kosim di pesantren Darul Hidayah, Gatot Subroto. Saat SMP bersama kakeknya ikut mengaji di Prof. Dr. Anwar Musaddad (pendiri ponpes Musaddadiyah, Garut) selama 3 tahun.
Setelah lulus SMA, Kemal remaja melanjutkan pendidikan ke UIN SGD Bandung dengan jurusan dakwah fakultas Ushuluddin. Setelah lulus S1, dirinya sempat tinggal di Malaysia dan Brunei Darussalam beberapa bulan untuk mengajar, barulah ia kembali dan mengikuti ujian menjadi prajurit.
Baca Juga: Uu di HUT Ke-76 TNI: Kondusif Jadi Modal Utama PembangunanSejak awal Kemalsyah bercita cita menjadi insinyur pertanian. Namun takdir Allah berkata lain, saat dirinya mengikuti tes akademi militer, dirinya dinyatakan lulus.
Pada tahun 1991, Kemalsyah mengenyam pendidikan di AKMIL Magelang, batalyon siswa, SEPAMILWA ABRI gelombang 2. Setelah lulus dari AKMIL, dinas pertamanya adalah di pangkalan TNI AU Pekanbaru, Riau, sebagai Kasibintal Dispers Lanud Pekanbaru (membina anggota dan keluarga besar lanud, skadron udara 12 dan satuan radar Dumai.
Selanjutnya mendapatkan tugas dinas ke Aceh untuk operasi jaring merah. Operasi Jaring Merah adalah operasi kontra-pemberontakan yang diluncurkan pada awal 1990an hingga 22 Agustus 1998 melawan gerakan separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh.
Setelah itu, beliau mendapatkan tugas dinas penempatan di Jakarta. Kesempatan itu tidak di sia-siakan, beliau langsung mendaftarkan pendidikan S2 di UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta) jurusan Pemikiran Islam.
Baca Juga: Berawal dari Perjalanan Spiritual, Mantan Panglima Moeldoko Bangun Masjid di Tanah KelahiranBersamaan dengan pendidikan S2 nya, beliau mengenyam pendidikan di militer, SEKKAU sekolah komando kesatuan angkatan udara.
Tahun 2001, setelah pendidikan S2-nya lulus dan SEKKAU nya juga lulus, beliau tanpa pikir panjang lagi, esok harinya langsung mendaftar S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Pemikiran Islam.
Dari kurang lebih 500 pendaftar yang hadir dari berbagai lulusan negara, seperti: Indonesia, Mesir, Pakistan, Arab Saudi, Malaysia dan Syiria, yang ingin melanjutkan S3 di UIN Jakarta. Lagi-lagi di saat yang bersamaan dengan pendidikan S3nya, beliau juga harus sekolah militer di SESKO AU Lembang Bandung.
Semuanya dilalui bukan karena ingin mengejar gelar atau pangkat. Diakuinya bahwa ada kehausan ilmu, ada keinginan belajar yang kuat dari kecil yang berdampak sampai sekarang.
Berkat ilmu agamanya yang baik dan jiwa nasionalismenya yang tidak diragukan lagi, Kemalsyah dipercaya sebagai Kasubdisbintal TNI AU pada tahun 2012-2014. Di Pusbintal TNI sebagai Sespusbintal TNI tahun 2014-2017 dan Sesdisbintalidau sampai saat ini.
Kecenderungan untuk berdakwah sangat tinggi dalam membangun masyarakat bangsa untuk memiliki pemahaman agama yang benar serta bijak, sehingga bangsa ini akan senantiasa damai dan karena hakikat nya agama itu adalah rahmatan lil alamin. Tercatat sudah 21 tahun beliau rutin mengisi program di serambi Islam TVRI setiap hari Sabtu. Selain itu beliau pernah mengisi di TPI (Sebelum menjadi MNCTV) selama 8 tahun dan juga di Indosiar selama 7 tahun.
Baca Juga: Mantan Pangdam Bangun Pesantren dan Masjid di Tengah Hutan MarosSaat ini beliau memiliki dan mengasuh pondok pesantren Papan Raudhatul Jannah di daerah Jatiasih, Bekasi. Selain itu, pondok ini juga memiliki cabang di Banjaran Bandung, dengan nama yang sama.
Pondok pesantren Papan Raudhatul Jannah di Bandung, mengedepankan pertanian dan perkebunan, sesuai dengan cita-cita dahulu Kemalsyah yang ingin menjadi insinyur di sektor pertanian.
Baginya saat ini pangkat yang ia miliki adalah anugerah yang diberikan Allah SWT, namun tidak boleh sombong Kepangkatan dalam pekerjaannya bersifat sementara, yang jika sudah pensiun akan sirna.
Berbeda dengan berdakwah, sampai ajal menjemput baru akan lepas tugas. Untuk itulah ia terus konsisten menjadi pendakwah sampai saat ini, dan sering ia lakukan walaupun masih dengan menggunakan baju dinas.
Baginya apapun profesinya, dakwah adalah investasi yang hakiki sebagai sarana membangun bangsa yang santun, maju dan damai sekaligus menjadi tabungan akhirat kelak. Wallahu a'lam bisshowab.
Baca Juga:
Jokowi Apresiasi Peran TNI dalam Penanganan Pandemi
HUT ke-76 TNI, Atraksi Helikopter dan Pesawat Tempur di Langit Jakarta(asf)