LANGIT7.ID–Jakarta; Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji kepada para pemimpin Arab dan Teluk bahwa dirinya tidak akan membiarkan Israel mencaplok wilayah Tepi Barat yang diduduki. Hal ini disampaikan beberapa sumber kepada Al Arabiya English, bersamaan dengan pengungkapan rencana perdamaian di Gaza dan kawasan Timur Tengah.
Janji sekaligus rencana itu disampaikan Trump saat bertemu dengan para pemimpin Arab dan Teluk di sela-sela Sidang Umum PBB di New York pekan ini. Para pejabat regional sebelumnya sudah berulang kali mengingatkan bahwa langkah aneksasi hanya akan memperburuk konflik dan mengancam perjanjian normalisasi yang sudah ada.
Utusan khusus Timur Tengah Trump, Steve Witkoff, mengatakan dari New York bahwa Trump telah menyajikan rencana damai berisi 21 poin pada Selasa.
“Saya pikir rencana ini mengakomodasi kekhawatiran Israel, sekaligus menjawab kepentingan para tetangga di kawasan,” ujar Witkoff. “Kami berharap, bahkan saya bisa katakan cukup yakin, dalam beberapa hari ke depan akan ada semacam terobosan yang bisa diumumkan.”
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin Arab dan Islam mengucapkan terima kasih atas pertemuan tersebut dan menyoroti kondisi yang mereka sebut “tak tertahankan” di Jalur Gaza.
Mereka menekankan perlunya menghentikan perang, segera melakukan gencatan senjata, membebaskan seluruh sandera, serta membuka akses bantuan kemanusiaan.
“Mereka menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan Presiden Trump dan menekankan pentingnya kepemimpinannya untuk mengakhiri perang serta membuka jalan bagi perdamaian yang adil dan berkelanjutan,” tulis pernyataan bersama itu.
Negara-negara Arab dan Islam juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas di Tepi Barat serta melindungi situs-situs suci di Yerusalem.
Sementara itu, pemerintahan Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berulang kali menegaskan penolakannya terhadap pembentukan negara Palestina dan menunjukkan niat untuk memperluas kontrol atas wilayah pendudukan.
Negara-negara Arab dan Teluk terus mendesak Washington—yang selama ini menjadi pendukung utama politik dan militer Israel—untuk turun tangan, dengan peringatan bahwa aneksasi bisa membekukan Perjanjian Abraham. Trump sendiri kerap menyoroti perjanjian tersebut sebagai capaian diplomatik besar di masa pemerintahannya terdahulu.
Uni Emirat Arab, salah satu penandatangan utama, bahkan secara terbuka menyebut aneksasi Tepi Barat sebagai garis merah bagi Abu Dhabi yang bisa merusak semangat normalisasi hubungan.
Media Politico sebelumnya melaporkan pertama kali soal komitmen Trump kepada para pemimpin Arab dan Teluk bahwa aneksasi tidak akan diizinkan.
(lam)