LANGIT7.ID, Jakarta - Belakangan ini, ada YouTuber asal Mesir yang tinggal di Indonesia dan bisa berbahasa Indonesia yang cukup tenar di jagat maya. Ia kerap membagikan pengalamannya selama tinggal di Indonesia melalui
channel YouTube-nya, Fouly. Pemilik Channel YouTube tersebut bernama Mohammed Fouly, seorang warga negara Mesir yang sedang berkuliah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Jawa Timur.
Fouly mulai aktif menjadi konten kreator di tahun 2020 ketika pandemi virus corona (COVID-19) melanda Indonesia. Hal itu terlihat dalam publikasi konten perdananya. Selama menjadi
YouTuber, tercatat, Fouly telah memproduksi sekitar 40 konten dengan durasi yang berbeda, dari tiga menit hingga 20 menit.
Di
Channel YouTube-nya, Fouly banyak bercerita tentang kultur perbedaan Indonesia dan Mesir. Ia juga sering mengulas tentang kebiasaan orang-orang Mesir, mulai dari sisi kehidupan sehari-hari hingga masalah percintaan.
Ketertarikan Fouly menjadi konten kreator berawal ketika pembelajaran di UMM lebih banyak dilaksanakan via daring, akibat pandemi. Di situ Fouly memiliki banyak waktu luang, maka kemudian ia membuat
Channel YouTube. Tujuan awalnya adalah agar rekan-rekannya di UMM dapat memperoleh pengetahuan tentang kebudayaan di Timur Tengah.
Seiring berjalannya waktu, Fouly mulai merancang struktur
channel YouTube-nya dengan target penonton lebih luas yakni untuk masyarakat Indonesia. Saat memulai merintis pembuatan konten, Fouly dibantu oleh temannya di Prodi Bahasa Indonesia UMM untuk memperlancar ejaan Bahasa Indonesianya.
Di awal merintis, Fouly hanya bermodal
smartphone. Masalah
editing dan pengambilan gambar dilakukan secara mandiri. Namun berkat itu, Fouly berhasil menyabet
Silver Play Button dari
YouTube atas capaian 227 ribu
subscriber.
Sulit Makan NasiDi
Channel YouTube-nya, Fouly bercerita ketika pertama kali datang di Indonesia tahun 2017. Saat itu Fouly heran soal sarapan pagi dengan nasi. Sebab di Mesir sarapan nasi di pagi hari tidak biasa. Bahkan ketika pulang ke Mesir dan makan nasi di pagi hari, Fouly disebut gila oleh ayahnya.
"Tahun lalu saya kembali ke Mesir, saya baru bangun tidur, sangat lapar. Jadi saya berpikir makan apa yah? Saya buka kulkas, ada sisa nasi putih dari kemarin, jadi saya panasin dan langsung makan. Tapi tiba-tiba Abi Fouly masuk dapur. Beliau kaget melihat piring saya, 'kok makan nasi pagi hari, kamu gila?' Saya tertawa keras, soalnya di Mesir tidak boleh makan nasi di pagi hari. Makan nasi pagi hari itu sangat aneh, benar - benar aneh. Tidak ada yang berani makan nasi di pagi hari, " kata Fouly di
Channel YouTube-nya.
"Biasanya di Mesir, makan roti, telur atau kacang Mesir. Tapi saya tidak kasih tahu Abi bahwa di Indonesia makan nasi, tiga kali sehari. Belum makan, kalau belum makan nasi, " sambung Fouly sambil tertawa di
Channel YouTube-nya.
Meski demikian, kata Fouly, makan nasi di pagi hari selama berada di Indonesia membutuhkan waktu cukup lama untuk menyesuaikan diri. Katanya dia terpaksa makan nasi sebagai sarapan di pagi hari, karena sulit mendapatkan roti dan kacang seperti yang ada di Mesir.
"Awal - awal di Indonesia Fouly juga tidak terbiasa makan nasi di pagi hari. Saya cari-cari roti Mesir di Indonesia itu sama sekali tidak ada. Cuma ada roti di Minimarket, itu tidak begitu enak. Satu bulan di Indonesia, saya tidak sarapan sama sekali. Lalu siang baru makan nasi . Tapi sekarang kabar gembira sudah bisa makan nasi di pagi hari, " urai Fouly.
Tertular KepoHal baru lainnya yang didapat Fouly ketika berada di Indonesia yaitu tertular
kepo atau banyak tanya. Padahal, tutur Fouly di
Channel YouTube-nya, banyak tanya ke orang lain tidak diperbolehkan di Mesir.
"Di Indonesia setiap saya keluar rumah, saya selalu ditanya tetangga, mas mau kemana? Ini salah satu hal yang buat saya kurang nyaman. Soalnya budaya Arab tidak boleh tanya seperti itu. Tapi saya lama-kelamaan tertular kepo dan sudah sangat terbiasa . Bahkan ketemu orang saya bertanya mau kemana, sampai sekarang dan tidak ada masalah," katanya.
Menurut Fouly, 'ilmu'
kepo yang didapatkan ketika di Indonesia bisa menjadi persoalan ketika berada di Mesir. Sebab menanyakan urusan pribadi orang di Mesir adalah sesuatu yang dilarang.
"Masalahnya ketika Fouly pulang kampung ke Mesir. Di sana, saya keluar ketemu tetangga, langsung nanya, mau ke mana? Tetanggaku langsung kaget dan kurang nyaman. Soalnya ini di Mesir itu adalah pertanyaan pribadi, tidak boleh ditanyakan. Bahkan dianggap tidak sopan," tutur Fouly dengan nada tertawa.
Di Indonesia Sulit RebahanSelain itu, lanjut Fouly, perbedaan lain antara kultur di Indonesia dan Mesir ada pada pola tidur. Di Mesir, kata Fouly, warganya seusai melaksanakan Salat Subuh kembali melanjutkan tidur dan mulai beraktivitas pada pukul 10.00 waktu setempat. Hal ini juga membuat Fouly kesulitan beradaptasi ketika di Indonesia.
"Di Mesir itu, orang yang bangun jam 10 termasuk orang yang aktif. Karena jam 10 atau jam 11 di Mesir termasuk pagi hari. Tapi di Indonesia bangun jam 10 itu bangun kesiangan. Ini perbedaan gaya hidup yang membuat saya pusing sekali pas pindah ke Indonesia. Satu tahun di Indonesia saya baru bisa menyesuaikan," ungkapnya.
Setelah beradaptasi dengan pola tidur di Indonesia, Fouly kembali kesulitan ketika pulang ke Mesir.
"Masalahnya ketika fouly kembali ke Mesir, hanya saya yang bangun pagi sendiri, karena Abi, Ummi, Kakak, tidur habis subuh. Bangun tidur tidak bisa ke mana-mana karena di Mesir, toko, tempat umum dan pasar mulai buka jam 10 dan 11. Pola tidur orang Mesir lebih seru, tetapi pola tidur orang Indonesia lebih sehat," pungkasnya.
(jqf)