LANGIT7.ID - , Jakarta - Brand lokal skincare Mitufaya merupakan salah usaha kecil yang terdampak pandemi COVID-19. Namun, Mila dan Taufik, pemilik Mitufaya enggan berputus asa.
Keduanya memutar otak, menyesuaikan strategi dengan perubahan tren pasar. Bahkan, Mitufaya mampu memperluas skala bisnisnya dari hanya berbasis online hingga membuka toko offline di tengah pandemi.
Berkat kegigihannya, kini Mitufaya bisa mencatat 5.000 sampai 10.000 transaksi setiap bulannya.
“Ketika pandemi, kalau dibilang terpuruk memang terpuruk banget. Kita hampir tidak ada pemasukan sama sekali selama satu bulan. Usaha online kami hanya cukup untuk menutup keperluan operasional, termasuk listrik rumah, internet, dan gaji karyawan, sedangkan untuk konsumsi pribadi justru tidak ada," cerita Mila melalui keterangan tertulis.
Baca juga : Keranjingan Skincare, Luna Maya Menyesal Tak Rawat Kulit sejak DiniPrinsip yang dipegang teguh oleh Mila adalah untuk tidak berhenti meski sesulit apapun, harus tetap berjalan.
Semangat pantang menyerahnya membawa Mitufaya bangkit di tengah tantangan pandemi. Pada November 2020, Mitufaya berhasil membuka toko offline dan beauty studio pertamanya.
Mila menggunakan dana tabungan yang telah ia simpan sebelumnya sebagai modal membuka toko. Baginya, kehadiran toko fisik penting untuk memperkuat presensi bisnisnya serta meningkatkan kepercayaan pelanggan dan distributor.
Strategi Mila selanjutnya untuk mengembangkan bisnisnya adalah mengikuti pasar, dengan memperhatikan pergeseran tren make up industri skincare selama pandemi. Hal ini mendorong Mila untuk merambah produk skincare guna menjawab kebutuhan pelanggannya.
“Dalam berbisnis, kita harus mampu mengikuti tren pasar dan apa yang dibutuhkan oleh pelanggan. Misalnya, seperti saat Mitufaya bergeser merambah produk skincare dari make up padahal awalnya, skincare bukanlah keahlian saya. Kita ngga pernah tahu mungkin dua tahun lagi tren akan kembali berubah," papar perempuan lulusan Universitas Muhammadiyah Malang ini.
Baca juga : Mawar tak Hanya Indah, 6 Khasiat Airnya untuk Kecantikan WajahTak berhenti di situ, Mila pun mengamati pergeseran tren pembayaran ke arah digital. Melihat tren tersebut, Mitufaya bergerak mengadopsi teknologi pembayaran digital dengan bergabung sebagai merchant aplikasi usaha, Youtap.
Melalui aplikasi ini bisnis Mitufaya bisa menerima beragam opsi pembayaran mulai dari tunai, mobile banking, hingga QRIS. Bahkan, transaksi Mitufaya saat ini didominasi oleh pembayaran digital. Mitufaya mencatat paling tidak 60% transaksi bisnisnya dilakukan secara digital.
Menurut Mila dalam berbisnis harus peka dalam melihat tren pasar, salah satunya pembayaran digital. Terlebih di masa pandemi.
"Pada akhirnya, kemampuan adaptif inilah yang membantu kami bertahan. Tapi yang penting kita harus siap dengan perubahan, menangkap peluang, dan jangan patah semangat,” tutup Mila.
Berkat rangkaian strategi adaptifnya tersebut, toko offline Mitufaya mampu bangkit. Mila pun mengaku bahwa saat ini usahanya telah mencatat peningkatan omzet hingga 10 kali lipat jika dibandingkan dengan sebelum ia membuka toko offline.
(est)