Langit7, Jakarta - Ilmu diperlukan setiap para pelaku usaha untuk memulai atau pun mengembangkan bisnis. Namun terkadang, saking banyaknya pelajaran yang diikuti dalam bisnis, beberapa pelaku usaha bingung untuk memulainya.
Ustadz Abiena Yuri mengatakan dikanal Youtubenya,
Tajiru Center, seorang pelaku usaha perlu untuk mengedepankan ilmu dalam
Islamic Business yang berkaitan dengan syariah. Sudah menjadi kewajiban bagi pelaku usaha, khususnya ummat Islam, untuk mempelajari ilmu bisnis atau
enterpreuneurship yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
“Setiap jual-beli itu pasti ada polanya, maka itu kita bisa pelajari pola tersebut. Walaupun faktanya, pola rezeki setiap orang akan berbeda. Artinya, pola bisnis bisa ditiru tapi pola rezeki tidak bisa ditiru,” ujarnya.
Baca juga: Lebih Efisien, Produsen Serat Sintetis di Banten Beralih ke Listrik PLN
Paling tidak, lanjut dia, dengan belajar dari orang yang tepat dalam bisnis, akan membuat pelaku usaha terdorong untuk memiliki optimisme dalam bisnis. Dalam perkembangan bisnis, setiap pelaku usaha bisa mempelajari tiga poin, yakni
intrapersonal, interpersonal, dan spiritual.
Sebagai ummat Islam, sudah seharusnya tidak menanggalkan pola spiritual dalam kegiatan apa pun, termasuk dalam bisnis. Sebab, setiap muslim pasti membutuhkan kedekatan dengan Yang Maha Kuasa.
“
Intrapersonal itu kecerdasan untuk membangun diri. Jadi bagaimana seseorang bisa bernegosiasi dengan dirinya sendiri untuk menghadapi masalah, bingung, atau pun kejatuhan dalam bisnis,” jelasnya.
Baca juga: Masuk Prolegnas, RUU Ekonomi Syariah di DPR Dapat Dukungan Banyak PihakSementara
interpersonal, lanjut dia, lebih kepada hubungan dengan masyarakat atau pun jaringan bisnis. Ia meyakini, dalam spiritual, setiap pengusaha yang sukses memiliki nilai spiritual yang tinggi.
Hal itu dapat dilihat dari kesuksesan salah satu sahabat Nabi SAW, yakni Abdurrahman bin Auf yang mampu menguasai pasar Madinah. Di mana pada waktu awal hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf yang tidak memiliki apa-apa, mampu sukses lewat berbisnis dalam waktu singkat.
“Ini adalah pola bisnis dari seorang sahabat Nabi SAW, yang berbisnis tanpa modal finansial, melainkan hanya bermodalkan kejujuran dan amanah. Artinya, modal kapital di sini ditunjukkan bukan finansial, melainkan dari karakter,” jelasnya.
Dari ketiga poin
intrapersonal, interpersonal, dan spiritual yang dimiliki Abdurrahman bin Auf, yang membuatnya mampu menguasai komunitas pasar Madinah dalam waktu singkat. Sehingga, setiap pelaku usaha di era modern ini pun bisa mencontoh karakter yang dimiliki para sahabat Nabi SAW, walaupun dengan ketentuan rezeki yang berbeda-beda.
(zul)