LANGIT7.ID – Di pesisir Syam abad ketujuh, sebuah kekuatan baru belajar menaklukkan laut. Ketika pasukan Islam mulai memahami bahwa wilayah kekuasaan tak hanya ditentukan kekuatan kavaleri dan panji di padang pasir, Abdullah bin Qais tampil sebagai sosok yang membuka jalur baru: kejayaan maritim umat Islam.
Dalam catatan Muhammad Husain Haekal, yang merujuk pada riwayat Tabari, Abdullah bin Qais mendampingi Muawiyah bin Abi Sufyan dalam ekspedisi ke Siprus. Pada awalnya mereka mendahulukan jalur damai, memanfaatkan keretakan politik Romawi kala itu di Mesir dan Afrika. Namun ketika Siprus kembali membelot, armada Syam dan Mesir berangkat dalam gelombang serangan yang lebih keras. Abdullah bin Qais memimpin salah satu armada tersebut bersama Abdullah bin Sa’d (
Haekal, Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan, Pustaka Litera AntarNusa).
Riwayat-riwayat itu menggambarkan kemahirannya di laut. Ia memimpin lima puluh serangan antara musim dingin dan panas. Satu pun kapal pasukannya tidak tenggelam, tidak juga rusak. Bahkan setiap operasi lautnya ia mulai dengan doa keselamatan bagi seluruh prajuritnya. Doa itu selalu terkabul. Pasukannya pulang tanpa korban.
Namun laut yang tak pernah menelannya justru memberi ruang bagi takdir lain. Abdullah bin Qais menemui akhir hayat bukan dalam pertempuran heroik, melainkan ketika ia seorang diri turun dari kapal perintis di wilayah Erzerum. Ia memberi sedekah kepada para pengemis di sana, hingga seorang perempuan mengungkap identitasnya kepada penduduk desa yang memusuhinya. Mereka menyerbu secara tiba-tiba.
Ia sempat melawan. Namun ia hanya seorang diri. Ia tewas karena kelengahan pasukan yang tidak mampu menjaganya dan tak dapat membalas kematiannya (Haekal, merangkum Tabari).
Kematian sang laksamana menandai babak gelap dalam sejarah awal angkatan laut Islam. Sufyan bin Adi al-Azdi mencoba menuntut balas tetapi gagal. Namun kerja Abdullah bin Qais tak sia-sia. Keberhasilan menaklukkan Siprus dan memperkuat angkatan laut Muslim membuat Romawi sadar: selama armada itu berdiri, mereka tak lagi punya kesempatan merebut Mesir dan Syam.
Laik catatan Haekal, Romawi menyadari bahwa supremasi laut bukan lagi milik mereka. Armada Islam tumbuh, awaknya semakin mahir. Bila dibiarkan, kejayaan masa lampau Byzantium akan tenggelam di bawah gelombang pasukan maritim Islam.
Abdullah bin Qais pun tetap dikenang sebagai pionir dari suatu kekuatan yang kelak menguasai Mediterania. Ia tidak mati di geladak kapal dengan pedang terhunus. Tapi ia adalah orang pertama yang menunjukkan bahwa Islam juga bisa menjadi bangsa pelaut, penjaga lautan, pembuka jalur kekuasaan dari pantai ke pantai.
Ia gugur bukan dalam perang besar. Tetapi sejarah memberinya gelar yang tak lekang: laksamana pertama dalam peradaban Islam. Dan dari jerih payahnya, angin laut tak lagi bertiup hanya untuk Byzantium.
(mif)