LANGIT7.ID, Jakarta - Kelompok
Muslim moderat diminta aktif berdakwah di kantor pemerintahan. Mereka jangan pasif, justru harus turut serta menggencarkan syiar di media sosial.
Hal ini disampaikan Sekretaris Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr M Najih Arromadloni.
"Karena saat ini kelompok moderat itu terlalu pasif dalam mengisi kegiatan keagamaan di instansi/lembaga negara," ujar Najih Arromadloni, Jumat (8/10/2021).
Baca Juga: Dakwah di Ruang Digital, Muhammadiyah: Hikmah dari PandemiMenurut dia, peran aktif kelompok moderat untuk menghadapi radikalisasi yang sudah masuk ke dalam semua lini, termasuk ASN, pegawai badan usaha milik negara (BUMN), TNI maupun Polri.
Faktor lain yang mendorong mudahnya kelompok radikal menyebarkan paham intoleran di instansi negara yakni terkait pola rekrutmen kelompok tersebut yang sengaja menyasar unsur kekuatan negara.
Bahkan mereka sengaja masuk menjadi bagian dari unsur kekuatan negara untuk dapat menginfiltrasi negara dari dalam.
"Ini sangat membahayakan ketika aparatur kita khususnya TNI/Polri sudah teradikalisasi. Ini sangat membahayakan dan kasus ini sudah banyak terjadi di banyak negara, salah satunya di Mesir," ujar Gus Najih.
Lebih lanjut Gus Najih menjelaskan, meskipun mereka itu anti terhadap negara, tapi faktanya mereka ini berbondong-bondong masuk ke dalam menjadi aparatur sipil negara.
"Karena mereka menganggap bahwa ini adalah cara untuk menginfiltrasi negara dari dalam," kata pria yang meraih gelar Doktoral Pengkajian Islam bidang Tafsir Hadis dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
(bal)