Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 Juli 2026
home masjid detail berita

Dosa Menyembunyikan Ilmu: Bayang-Bayang Moral yang Sulit Dihindari

miftah yusufpati Sabtu, 29 November 2025 - 17:57 WIB
Dosa Menyembunyikan Ilmu: Bayang-Bayang Moral yang Sulit Dihindari
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Foto/Ilustrasi: al Jazeera
LANGIT7.ID- Dalam bukunya, at Taubat Ila Allah, Syaikh Yusuf al Qardhawi mengulas satu dosa yang, menurutnya, paling sering mengintai para pemegang otoritas ilmu: menyembunyikan kebenaran. Istilah itu merujuk pada tindakan menahan informasi yang seharusnya disampaikan kepada publik—kadang karena takut, kadang karena kepentingan. Di halaman awal, Qardhawi mengutip peringatan al Quran terhadap ahlul kitab yang mengingkari janji mereka untuk menjelaskan isi wahyu.

Firman Allah berbunyi: Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya (QS. Ali Imran: 187). Para pemuka agama kala itu menutup berita kedatangan Nabi Muhammad, menukar kebenaran dengan harga murah. Di titik inilah, menurut Qardhawi, praktik penyembunyian kebenaran menjadi bagian dari skandal moral yang terus berulang sepanjang sejarah keagamaan.

Ayat lain memperinci hukuman itu dengan bahasa yang getir: Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah ... mereka itu sebenarnya tidak memakan ke dalam perutnya melainkan api (QS. al Baqarah: 174-175). Hukuman yang bukan hanya berbentuk siksa fisik, tapi juga pemutusan komunikasi: Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka.

Qardhawi menafsirkan ancaman tersebut sebagai pesan keras bagi siapa pun yang memegang akses pengetahuan tapi memilih bungkam. Dalam perspektifnya, dosa itu berbeda dari kemaksiatan biasa. Ia terjadi justru pada wilayah yang dianggap mulia: ilmu, kata, dan otoritas moral.

Beberapa karya klasik senada dengan gagasan itu. Dalam Ihya’ Ulumiddin, al Ghazali menempatkan penyembunyian ilmu sebagai bagian dari kehancuran sosial karena para pemilik otoritas ilmu menjadi sumber kesesatan baru. Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ al Fatawa juga mengkritik ahli ilmu yang mengaburkan dalil demi kedudukan. Sementara itu, dalam adab al ulama, Ibn Abdil Barr memasukkan kewajiban tabyin—menjelaskan kebenaran—sebagai rukun etika ulama.

Namun konteks modern membuat peringatan ini terdengar lebih luas. Jika dulu sasaran utamanya para ahli kitab, Qardhawi memperluas cakupannya ke profesi yang membentuk opini publik: penulis, pengarang, jurnalis, seniman, dan para orator. Kekuatan mereka—yang melekat pada pena, kamera, atau mikrofon—dapat mendorong kebenaran, atau justru menenggelamkannya.

Kasus-kasus pertobatan publik pernah muncul dalam sejarah pemikiran modern Arab. Mushthafa Mahmud, misalnya, meninjau ulang pemikiran filsafatnya dan menulis kembali sikap intelektualnya secara terbuka. Khalid Muhammad Khalid mengalami fase serupa ketika ia menarik sebagian pandangan politiknya, mengumumkan revisinya, dan menerbitkannya di media. Bagi Qardhawi, langkah seperti itulah syarat tobat: bukan hanya penyesalan, tapi juga perbaikan dan penjelasan terang-terangan.

Ia menulis: Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya (QS. al Baqarah: 159-160). Artinya, tobat terhadap dosa ini menuntut tindakan publik, bukan sekadar desakan batin.

Pertanyaannya, seberapa besar ruang bagi seseorang—terutama tokoh publik—untuk meralat kesalahan di tengah budaya digital yang penuh arsip dan mudah menghakimi? Di lingkungan media, pengakuan bersalah jarang mendapat ruang produktif. Koreksi dianggap kelemahan, bukan kedewasaan.

Padahal, sebagaimana dikutip Qardhawi, ancaman Al Baqarah 140 menegaskan: Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya? Kesaksian yang ditahan bisa merusak generasi, baik di mimbar maupun di layar kaca.

Dalam bayangan itu, tobat bukan sekadar ritual, melainkan etika komunikasi: berani merevisi, menjelaskan, dan membersihkan jejak kerusakan intelektual yang pernah ditinggalkan. Tugas yang, dalam pandangan Qardhawi, justru lebih berat daripada menulis kebenaran sejak awal.

Ia mencatat, pelaku penyembunyian kebenaran harus menarik peredaran media yang menyesatkan—buku, kaset, film—atau, bila tak mampu, mereka wajib mengumumkan koreksinya. Tindakan yang kini mungkin setara dengan permintaan maaf publik, revisi konten, atau penjelasan terbuka di ruang digital.

Akhirnya, tema besar yang ingin ditegakkan Qardhawi adalah ini: kebenaran bukan sekadar diketahui, melainkan diwariskan secara transparan. Menyembunyikannya adalah dosa; menampakkannya adalah tugas. Dan bagi siapa pun yang pernah khilaf dalam jejak intelektualnya, pintu pulangnya selalu sama: tobat yang dijelaskan dengan terang, bukan sekadar dibisikkan dalam hati.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:57
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan