Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 11 Februari 2026
home masjid detail berita

Ketika Iman Mengangkat, dan Warisan Lama Menarik Ke Bawah

miftah yusufpati Kamis, 04 Desember 2025 - 16:32 WIB
Ketika Iman Mengangkat, dan Warisan Lama Menarik Ke Bawah
Di balik kemenangan demi kemenangan pasukan Islam awal, iman menjadi tenaga pendorong. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Kemenangan Islam awal kerap dijelaskan dengan taktik militer Arab yang gesit atau kelemahan internal Persia dan Romawi. Tetapi Muhammad Husain Haekal, dalam Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan, menawarkan tesis lain: fondasi kekuatan itu adalah iman. Suatu energi moral yang membuat pasukan-pasukan kecil dari Madinah berani menantang dua kekaisaran besar yang selama berabad-abad menjadi pusat dunia.

Di padang-padang gersang Jazirah, menurut Haekal, kaum Muslim melihat agama baru ini bukan sekadar ritual, tetapi janji perubahan sosial. Ajarannya menyodorkan prinsip kesetaraan, musyawarah, dan pembebasan manusia dari kekuasaan kasta dan keluarga bangsawan. Ini resonan dengan analisis Fred Donner yang menyebut komunitas Muslim awal sebagai gerakan orang-orang beriman—sebuah proyek moral universal, bukan ekspansi etnis Arab.

Keberhasilan memukul mundur Persia dan kekuatan Romawi Timur mengukuhkan keyakinan itu. Orang Arab melihat diri mereka naik kelas secara sosial. Sebuah masyarakat yang dulunya terpecah suku dan dihina sebagai pinggiran, kini tampil sebagai motor sejarah.

Namun tidak semua warisan masa lalu menguap begitu saja. Haekal menggarisbawahi ketegangan lama antara Banu Hasyim dan Banu Umayyah, dua klan Quraisy yang sejarahnya panjang dan penuh dendam-pendaman. Islam membawa visi kesetaraan, tetapi ingatan kekerabatan, kebanggaan suku, dan kalkulasi politik tidak selalu tunduk pada ideal-ideal wahyu.

Pertanyaan-pertanyaan pun menggaung di tengah masyarakat: apakah hubungan darah dengan Nabi menambah hak atas kepemimpinan? Atau justru prinsip musyawarah dan kapasitas sosiallah yang menentukan? Di sisi lain, apakah Umayyah, dengan jaringan sosial yang luas, lebih pantas memimpin komunitas baru ini? Dan apakah orang Arab benar-benar lebih utama daripada Muslim non-Arab—Yahudi atau Nasrani yang masuk Islam—yang secara spiritual bahkan lebih dekat dengan tradisi kitab?

Dalam konteks politik abad ke-7, debat-debat ini bukan filsafat ruang seminar. Ia membentuk persepsi kekuasaan, mengalir dari majelis ke majelis, dari Kufah hingga Mesir. John Wansbrough dan Patricia Crone mencatat bahwa masa Usman memang menjadi titik ketika negara Islam baru mulai memasuki fase birokratisasi: kekuasaan, pajak, dan distribusi jabatan makin terstruktur—dan karenanya, makin diperebutkan.

Haekal melihat masa Usman sebagai momen peralihan, ketika semangat murni Islam awal mulai bersinggungan dengan realitas politik besar. Iman tetap menjadi tenaga penggerak ekspansi ke timur dan barat, tetapi bibit-bibit ketegangan internal perlahan tumbuh menjadi semak-semak kering yang siap terbakar.

Kekuatan spiritual itu belum padam, struktur negara masih kokoh, ekspansi tetap berjalan. Namun di balik stabilitas itu, lahirlah kecenderungan-kecenderungan baru: konflik elite, perbedaan visi administrasi, dan munculnya kelompok-kelompok masyarakat yang merasa terpinggirkan oleh kebijakan pusat.

Dari sinilah jalan menuju tragedi Usman terbentuk. Bukan karena agama melemah, tetapi karena ketegangan antara ideal dan realitas tak lagi bisa ditahan. Sebuah babak besar sejarah Islam akan segera dibuka: fitnah pertama, perang saudara, dan lahirnya bentuk-bentuk baru kekuasaan yang akan menentukan arah dunia Islam selama berabad-abad berikutnya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 11 Februari 2026
Imsak
04:30
Shubuh
04:40
Dhuhur
12:10
Ashar
15:25
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan