LANGIT7.ID - Rasulullah SAW merupakan sosok yang sangat romantis. Bentuk romantisme beliau kepada para istrinya ditunjukkan lewat panggilan manja. Bak pengantin baru, ia memegang tangan istrinya, bersandar di pundak, tidur di pangkuan, dan memperlakukan istrinya penuh cinta.
Abu Hamzah al-Ghamidi dalam buku Romansa di Rumah Nabi mengatakan, Rasulullah dikenal sebagai sosok suami yang penuh kenyamanan. Ia sering berbicara, menghibur, dan membahagiakan mereka pada malam hari.
Sikap baginda Nabi Muhammad sesuai dengan sabdanya, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya. Sebaik-baik kalian adalah orang-orang yang berakhlak mulia terhadap istri-istrinya.” (HR Tirmidzi).
Rasulullah SAW menikah saat beranjak dewasa. Usia beliau menyentuh angka 25 tahun dalam perhitungan kalender hijriah. Ia menikahi wanita luar biasa, Khadijah binti Khuwailid Atthahirah. Wanita suci di zaman jahiliyah.
Ada satu riwayat yang menyebut Khadijah binti Khuwailid masih 28 tahun saat menikah dengan Rasulullah. Ada pula yang menyebut Khadijah berusia 40 tahun. Pernikahan ini bukan pernikahan yang berdasarkan motif yang biasa.
Khadijah binti Khuwailid merupakan seorang wanita kaya raya. Segala capaian duniawi telah ia dapatkan. Mulai dari kehormatan, penghargaan, kekayaan, kesohoran, berakhlak mulia, cantik pula. Meski begitu, ia merasa ada bagian dari diri dan jiwanya yang masih kosong.
“Tapi, Khadijah, kekuatan spiritual yang tidak bisa didapatkan oleh laki-laki di masa jahiliyah,” tutur Pakar Sirah Nabawiyah Ustadz Asep Sobari melalui youtube Sirah Community, dikutip Sabtu (9/10/2021).
Ia mendapati Muhammad SAW sebagai sosok yang tepat untuk melengkapi ruang kosong itu. Ia telah menyaksikan secara langsung akhlak beliau. Sosok Muhammad muda terkenal di seantero Makkah sebagai Al-Amin, orang yang paling jujur dan amat terpercaya.
Maka pernikahan itupun terjadi. Rasulullah saat itu seorang yang serba kekurangan menikah dengan Khadijah yang kaya raya. Namun Ketiadaan harta bukan soal, karena permasalahan Ummul Mukminin bukan masalah materi dan kekayaan. Rasulullah SAW memiliki kekayaan jiwa dan spiritual. Itu yang menjadi kebutuhan Khadijah selama ini.
Meski berbeda latar belakang, namun Muhammad dan Khadijah sangat serasi. Saling mengisi kekurangan masing-masing. Rasulullah memiliki kelebihan yang merupakan kekurangan Khadijah, begitu juga sebaliknya. “Pernikahan yang mengantarkan mereka kepada kebahagiaan yang luar biasa sampai akhir hayatnya,” tutur Asep Sobari.
Potret Keluarga IdealHarmonisasi kehidupan rumah tangga ideal bisa terlihat pada diri Rasulullah dan Ibunda Khadijah selama 25 tahun berumah tangga. Pahit getir mereka alami. Beliau memiliki keluarga yang utuh dan sempurna bersama wanita cerdas nan jelita itu.
Bersama Khadijah, ada anak-anak baik, tetangga baik, lingkungan baik, lengkap. Itu dirasakan Rasulullah. Situasi memang berubah 10 tahun terakhir usia pernikahan mereka. Namun mereka tetap berdiri tegak bersama menghadapi segala rintangan yang datang.
Saat wahyu pertama turun, Rasulullah SAW mengalami kondisi yang tak pernah dialami sebelumnya, ia menggigil hebat. Khadijah mendekap dan memberikan kenyamanan. Saat kaum kafir Quraisy mendeklarasikan permusuhan, ibunda Khadijah menjadi benteng perlindungan. Satu sama lain saling mendukung. Kesedihan menjadi momen saling merangkul untuk menguatkan.
Khadijah tak hanya mengorbankan harta untuk kepentingan dakwah. Tapi juga selalu mampu jadi penguat dan pelipur lara Rasulullah. Hal itulah yang membuat cinta beliau kepada sang istri sangat mendalam. Dan rasa kehilangan yang dalam tak bisa hilang saat cinta pertamanya meninggal.
“Ketika Khadijah meninggal, Rasulullah sampai pernah mengatakan: ‘Aku tidak pernah mengalami satu kondisi yang lebih berat dalam mimpi kecuali setelah meninggalnya Khadijah. Tahun itu adalah amul huzni, tahun kepiluan.’,” tutur Ustadz Asep Sobari.
Rasulullah tidak pernah meninggalkan dan melupakan Khadijah. Meski Khadijah wafat dan beliau menikah lagi, tetapi ada satu ruang kosong dalam hati yang tidak pernah terisi oleh wanita lain.
(jqf)