LANGIT7.ID- Di tahun-tahun terakhir kekhalifahan Utsman bin Affan, kegelisahan sosial tumbuh di tengah kemakmuran imperium Islam yang meluas. Penaklukan wilayah membawa limpahan harta, tetapi juga jurang baru antara elite dan rakyat kebanyakan. Di titik inilah suara Abu Dzar al-Ghifari terdengar lantang, keras, dan sulit diabaikan.
Abu Dzar bukan figur sembarangan. Ia sahabat awal Nabi Muhammad, dikenal zuhud, tegas, dan tanpa kompromi soal keadilan sosial. Dalam berbagai riwayat, ia mengutip ayat-ayat Al-Quran tentang ancaman bagi penimbun harta dan menyerukan agar kekayaan tidak berputar di kalangan orang kaya saja. Muhammad Husain Haekal, dalam
Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan, menempatkan Abu Dzar sebagai oposisi moral yang jujur, bukan pemberontak politik.
Di Madinah, kritik Abu Dzar diarahkan pada kebijakan pengangkatan pejabat dan distribusi kekayaan negara. Ia melihat kecenderungan nepotisme dan gaya hidup mewah sebagian elite Quraisy sebagai penyimpangan dari teladan Nabi dan Abu Bakar-Umar. Seruannya sederhana, tetapi radikal: kembalikan kekayaan kepada fakir miskin.
Khalifah Utsman memilih jalan administratif. Abu Dzar diminta meninggalkan Madinah dan menuju Syam, wilayah yang diperintah Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Namun, pengasingan ini justru memperluas gaung kritik. Di Damaskus, Abu Dzar menyampaikan pesan yang sama, menegur kekayaan pejabat dan mendorong solidaritas sosial.
Mu’awiyah, menurut Haekal, menguji konsistensi sang sahabat Nabi. Ia mengirim seribu dinar kepada Abu Dzar, lalu keesokan harinya meminta kembali uang itu dengan alasan keliru alamat. Jawabannya tegas: uang itu telah habis dibagikan kepada kaum miskin. Bagi Mu’awiyah, ini cukup untuk memastikan bahwa Abu Dzar bukan agitator politik, melainkan seorang asket yang hidup dari keyakinannya.
Namun keteladanan moral sering kali lebih mengganggu daripada ambisi kekuasaan. Keluhan para hartawan Syam pun berdatangan. Mu’awiyah melapor kepada Utsman, yang kemudian memanggil Abu Dzar kembali ke Madinah. Tak lama kemudian, ia diminta menetap di Rabzah, sebuah wilayah sunyi di pinggiran Hijaz.
Di Rabzah, Abu Dzar hidup sederhana hingga wafat, tetap menerima tunjangan negara. Sejarawan seperti Wilferd Madelung dalam The Succession to Muhammad melihat episode ini sebagai cermin ketegangan awal antara etika kesetaraan Islam dan realitas negara yang kian menyerupai kerajaan.
Kisah Abu Dzar bukan sekadar cerita tentang seorang sahabat yang berbeda pendapat. Ia menandai babak penting dalam sejarah Islam: saat kekuasaan diuji oleh suara nurani. Di akhir masa Utsman, gema kritik itu tak lagi bisa diredam. Dan sejarah mencatat, kegelisahan moral itulah yang menjadi latar dari badai politik berikutnya.
(mif)