Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 09 Mei 2026
home masjid detail berita

Dari Isra ke As-Siddiq: Sejarah Sebuah Keyakinan

miftah yusufpati Rabu, 24 Desember 2025 - 05:15 WIB
Dari Isra ke As-Siddiq: Sejarah Sebuah Keyakinan
Peristiwa Isra bukan hanya ujian iman, tetapi juga titik balik tanggung jawab. Ilustrasi: Ist

LANGIT7.ID- Peristiwa Isra menjadi salah satu ujian paling berat bagi komunitas Muslim awal di Mekah. Ketika Nabi Muhammad menyampaikan bahwa ia diperjalankan pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaksa, reaksi yang muncul bukan hanya ejekan kaum musyrik, tetapi juga keguncangan iman di kalangan pengikutnya sendiri.

Muhammad Husain Haekal, dalam biografi Abu Bakar As-Siddiq, mencatat bahwa kisah itu dianggap mustahil oleh banyak orang. Perjalanan Mekah–Syam yang biasa ditempuh sebulan pergi dan sebulan pulang, kini diklaim terjadi dalam satu malam. Sebagian Muslim yang imannya belum mengakar memilih mundur. Sebagian lain diliputi keraguan.

Dalam situasi genting itu, nama Abu Bakar menjadi rujukan. Ia dikenal sebagai sahabat terdekat Nabi, sekaligus sosok yang imannya tenang dan rasional. Orang-orang mendatanginya, berharap menemukan celah keraguan. Yang mereka temui justru ketegasan.

“Kalian berdusta,” kata Abu Bakar ketika mendengar cerita itu. Ketika ditegaskan bahwa Nabi sendiri yang mengatakannya di masjid, jawabannya tidak berubah. Jika Muhammad yang berkata, maka itu benar. Baginya, Isra tidak lebih mengherankan dibanding wahyu yang turun dari langit ke bumi, yang selama ini ia imani tanpa ragu.

Sikap ini bukan sekadar pembelaan emosional. Para sejarawan seperti W. Montgomery Watt melihat respons Abu Bakar sebagai bentuk pemahaman mendalam tentang hakikat wahyu. Ia tidak menimbang Isra dengan ukuran kebiasaan manusia, melainkan dengan logika kenabian: jika Allah Mahakuasa, maka peristiwa itu mungkin terjadi.

Abu Bakar bahkan mendatangi Nabi dan mendengarkan langsung deskripsi Baitulmakdis, tempat yang pernah ia kunjungi. Setelah itu ia berkata singkat, “Aku percaya.” Sejak saat itulah Nabi memberinya gelar As-Siddiq, yang membenarkan dengan sepenuh keyakinan.

Dampak sikap Abu Bakar melampaui peristiwa itu sendiri. Haekal mengajukan pertanyaan reflektif: bagaimana jadinya Islam yang masih muda jika Abu Bakar ikut ragu? Berapa banyak yang akan murtad, dan seberapa dalam keguncangan yang terjadi? Jawaban Abu Bakar, yang sederhana namun tegas, menjadi penyangga iman kolektif umat.

Dalam perspektif sosiologi agama, sebagaimana dikemukakan Max Weber, figur karismatik membutuhkan pengakuan dari lingkar terdekatnya agar otoritas spiritualnya bertahan. Abu Bakar memainkan peran itu. Keyakinannya menjadi legitimasi sosial atas pengalaman transenden Nabi.

Kisah Isra dengan demikian bukan hanya tentang perjalanan malam Nabi, tetapi juga tentang keteguhan iman seorang sahabat. Di tengah ejekan dan logika yang buntu, Abu Bakar menunjukkan bahwa iman, ketika berakar kuat, bisa menjadi kekuatan sejarah yang jauh melampaui pedang dan kekuasaan.



(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 09 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)