Pesan Menag di Rakerwil Sultra: Jangan Jadikan Agama Alat Pemecah Belah Bangsa
tim langit 7Jum'at, 09 Januari 2026 - 17:10 WIB
LANGIT7.ID-Jakarta; Potensi perpecahan akibat perbedaan pandangan keagamaan menjadi sorotan utama dalam agenda Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2026. Stabilitas bangsa dinilai sangat bergantung pada kemampuan umat dalam menyikapi keragaman tanpa terprovokasi adu domba.
Peringatan tersebut disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar di hadapan jajaran Kemenag saat berkunjung ke Villa Nirwana Buton, Kota Baubau, Kamis (8/1/2026). Ia menekankan pentingnya kebijaksanaan di tengah dunia yang makin terbuka dengan beragam pemikiran teologis.
"Perbedaan mazhab, pandangan keagamaan, maupun ritual jangan sampai dijadikan alat untuk saling menyesatkan dan memecah belah. Sejarah membuktikan Indonesia tidak pernah runtuh karena perbedaan, tetapi bisa hancur jika umatnya diadu domba,” tegas Menag dalam keterangan resmi, Jumat (9/1/2026).
Menurut Nasaruddin, Indonesia sebagai salah satu negara paling plural di dunia memiliki ribuan pulau, bahasa, dan etnik. Kondisi majemuk ini menuntut komitmen keagamaan yang berfungsi sebagai penyeimbang dan penstabil situasi, bukan justru menjadi pemicu konflik.
“Inilah wajah Indonesia yang sangat majemuk. Tidak mudah dikelola, tetapi justru menjadi kekuatan jika mampu dijaga persatuan dan kesatuannya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kekayaan sumber daya bangsa tidak akan bermakna jika fondasi sosialnya rapuh. “Keamanan, kerukunan, dan stabilitas adalah fondasi utama. Tanpa itu, sebesar apa pun kekayaan bangsa tidak akan berarti,” kata Nasaruddin.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Kanwil Kemenag Sultra, Mansur, menjelaskan bahwa Rakerwil ini bertujuan memperkuat kolaborasi dan aksi strategis daerah. Salah satu terobosan penting dalam pertemuan ini adalah peluncuran Kota Wakaf dan penandatanganan nota kesepahaman penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Buton.
“Selain program ekoteologi yang telah diluncurkan Menteri Agama, kami juga mengikhtiarkan lahirnya program penerjemahan Al-Qur’an beraksara Wolio atau Buton sebagai warisan berharga bagi umat dan masyarakat Sulawesi Tenggara,” jelas Mansur.
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi, antara lain Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka, Ketua DPRD Sulawesi Tenggara La Ode Tariala, dan Wali Kota Baubau Yusran Fahim.
Hadir pula jajaran pejabat pusat Kemenag seperti Tenaga Ahli Menag Andi Salman Maggalatung, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Basnang Said, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Sidik Sisdiyanto, serta seluruh jajaran Kemenag se-Sulawesi Tenggara.
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.