Wamen Haji Ingatkan Beratnya Tugas PPIH 2026 hingga Jalan Kaki 25 Kilometer Sehari
tim langit 7Senin, 26 Januari 2026 - 08:00 WIB
LANGIT7.ID-Jakarta; Beban kerja fisik yang berat diprediksi akan dihadapi oleh para Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 2026. Dalam satu hari pelayanan di Tanah Suci, seorang petugas diperkirakan harus melangkah hingga 30 ribu kali demi memastikan kebutuhan jamaah terpenuhi.
Tingginya intensitas aktivitas lapangan ini menjadi alasan utama mengapa ketahanan tubuh menjadi prioritas dalam pembekalan petugas. Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Azhar Simanjuntak, mencontohkan bahwa pada kondisi tertentu, mobilitas petugas bisa sangat ekstrem.
"Pernah dihitung, jarak terjauh itu bisa setara perjalanan dari Arafah ke Masjidil Haram, sekitar 25 kilometer. Jadi memang harus dilatih sejak sekarang," kata Dahnil dalam keterangan resmi, dikutip Senin (26/1/2026).
Arahan tersebut disampaikan Dahnil usai melakukan lari pagi bersama peserta sejauh 7 kilometer. Ia menekankan bahwa syarat administratif seperti vaksinasi belum cukup menjamin kesiapan petugas jika tidak dibarengi dengan kebugaran fisik yang prima.
"Ibadah haji itu 90 persen adalah ibadah fisik. Karena itu, stamina petugas harus disiapkan dari sekarang," ujarnya.
Para petugas dijadwalkan akan mengemban amanah selama rata-rata 70 hingga 75 hari, mulai dari keberangkatan pada April hingga fase pemulangan berakhir sekitar Juni. Tantangan di lapangan kian kompleks karena mayoritas jamaah haji Indonesia merupakan kelompok lanjut usia (lansia).
Dahnil menjelaskan bahwa pendampingan terhadap jamaah lansia, terutama perempuan, membutuhkan energi ekstra serta kompetensi pendukung lainnya.
"Petugas akan banyak berinteraksi dengan jamaah lansia, termasuk perempuan lansia. Itu butuh stamina kuat, pemahaman fikih yang baik, dan kemampuan komunikasi dasar dalam bahasa Arab," tuturnya.
Oleh karena itu, masa pelatihan selama 20 hari dimanfaatkan sebagai momentum untuk membentuk habitus atau kebiasaan baru. Dahnil berharap para peserta dapat meningkatkan kedisiplinan, kekompakan, serta kapasitas diri baik dari segi fisik maupun pemahaman manasik dan bahasa Arab pasaran (amiah).
"Dua puluh hari ini adalah masa membangun kebiasaan. Mudah-mudahan setelah selesai, teman-teman tetap menjaga ritme latihan dan belajar," harap Dahnil.
Tantangan terbesar menurutnya adalah menjaga konsistensi setelah diklat berakhir, khususnya saat memasuki bulan Ramadan yang sering kali membuat intensitas olahraga menurun. Dahnil menyarankan agar para peserta membuat grup komunikasi untuk saling mengingatkan dan menjaga ritme persiapan hingga waktu keberangkatan tiba.
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”