Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 10 Februari 2026
home masjid detail berita

Melacak Makna Puasa dari Padang Pasir: Bukan Sekadar Urusan Perut yang Kosong

miftah yusufpati Rabu, 04 Februari 2026 - 18:10 WIB
Melacak Makna Puasa dari Padang Pasir: Bukan Sekadar Urusan Perut yang Kosong
Ia mencakup menahan diri dari berbicara, hubungan badan, hingga melakukan perjalanan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di balik keriuhan perdebatan fiqih tentang batas imsak, tersimpan sebuah konsep linguistik yang kokoh. Dalam khazanah bahasa, الصَّوْمُ atau ash-shaum bukan sekadar urusan perut yang kosong. Ia adalah sebuah tindakan aktif untuk berhenti, mencegah, dan meninggalkan. Sebuah garis batas yang ditarik manusia terhadap ego dan gerak alaminya.

Ibnu Faris, dalam kitab legendaris Maqaayiisul Lughah, meletakkan fondasi yang presisi. Menurutnya, akar huruf shad, wawu, dan mim adalah dasar yang menunjukkan pada penahanan dan berdiam diri di tempat. Shaum adalah jangkar; sebuah kondisi di mana sesuatu yang seharusnya bergerak memilih untuk menetap.

Keheningan ini terekam abadi dalam fragmen kisah Maryam. Ketika beban fitnah menghimpit, langit memerintahkannya untuk bersunyi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Maryam ayat 26:

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Maryam bernadzar untuk shauman. Namun, puasa di sini bukanlah pantangan makan, melainkan menahan diri untuk tidak berbicara dengan seorang manusia pun. Di sini, shaum adalah perisai dari kata-kata.

Para penyair Arab kuno, para penjaga gerbang bahasa, juga merekam shaum dalam metafora yang kuat. Umru-ul Qais, sang maestro puisi jahiliyah, pernah menggambarkan bintang-bintang di cakrawala dengan kalimat

كَأَنَّ الثُّرَيَّا عَلَقَتْ فِي مَصَامِهَا

Bintang-bintang itu seakan-akan bergantung di jantung langit, tetap, dan tidak berpindah. Inilah puasa kosmik, di mana benda langit menahan diri dari edarnya.

Bahkan sang surya pun bisa dianggap berpuasa dalam imajinasi sastra. Matahari yang berjalan lambat di puncak siang digambarkan seakan-akan sedang shaum, menahan diri untuk tidak segera terbenam. Sifat menahan diri ini meresap ke segala lini kehidupan, termasuk pada hewan tunggangan yang menjadi harga diri bangsa Arab.

An-Nabighah, penyair lain yang dihormati, melukiskan suasana peperangan dengan ungkapan

خَيْلُ صِيَامٍ وَخَيْلُ غَيْرِ صَائِمَةٍ

Ada kuda yang shiyam (berpuasa) dan ada yang tidak. Maksudnya sederhana namun mendalam: kuda yang shiyam adalah kuda yang berdiri tegak, mematung di bawah taburan debu, dan menahan diri dari makan. Hal ini dipertegas dalam Lisaanul Arab yang menyebutkan bahwa kuda dikatakan shaa-im karena penahanan dirinya dari makan dengan cara berdiri.

Al-Fairuz Abadi dalam kamus besarnya kemudian merangkum cakrawala makna tersebut. Kata صَامَ، صَوْمًا، صِيَامًا وَإِصْطَامَ bukan hanya soal makan dan minum. Ia mencakup menahan diri dari berbicara, hubungan badan, hingga melakukan perjalanan.

Pada akhirnya, menelusuri etimologi ash-shaum melalui karya-karya lama ini menyadarkan kita bahwa puasa adalah sebuah jeda semesta. Ia adalah upaya manusia untuk menjadi seperti bintang yang diam atau kuda yang teguh; mengambil jarak dari kebiasaan demi menemukan kembali hakikat keberadaan yang paling tenang.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 10 Februari 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
12:10
Ashar
15:26
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan