Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 28 Mei 2026
home masjid detail berita

Khutbah Tarawih: Memaknai Esensi Ramadhan, Bukan Sekadar Menahan Lapar, Ini Perbedaan 'Siyam' dan 'Shaum'

nabil Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:40 WIB
Khutbah Tarawih: Memaknai Esensi Ramadhan, Bukan Sekadar Menahan Lapar, Ini Perbedaan 'Siyam' dan 'Shaum'
Ustaz H. Anas Abdul Jalil, M.A. saat memberikan khutbah tarawih di Masjid Baitul Hilmi, Tomang, Jakarta Barat, Jumat (20/2/2026).

LANGIT7.ID-Jakarta; Kedatangan bulan suci Ramadhan merupakan anugerah besar yang nilainya sangat mustajab. Bukan sekadar dihitung dalam hitungan bulan atau hari, keutamaan Ramadhan mengalir di setiap detiknya. Hal ini menjadikan Ramadhan sebagai momentum emas bagi umat Islam untuk meraih pahala melalui ibadah yang utuh, baik secara lahir maupun batin.

Pesan mendalam ini disampaikan oleh Ustaz H. Anas Abdul Jalil, M.A. dalam khutbahnya di Masjid Baitul Hilmi, Tomang, Jakarta Barat. Beliau mengingatkan jemaah bahwa Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk benar-benar mengamalkan segala ilmu agama yang telah dipahami selama ini.

"Jadi sepanjang Ramadhan ini hitungannya per detik. Maka beruntunglah di bulan Ramadhan ini mereka diberikan pahala," ujar Ustaz Anas mengawali penjelasannya, dikutip Sabtu (21/2/2026).

Baca juga: Khutbah Tarawih: Catat! Ini 9 Hal yang Bisa Membatalkan Puasa Ramadhan

Dimensi Berbeda Antara Siyam dan Shaum

Dalam khutbah tersebut, Ustaz Anas mengupas secara detail esensi ibadah di bulan suci melalui dua istilah yang sering digunakan berdampingan, yakni siyam dan shaum. Ia menjelaskan bahwa keduanya memiliki penekanan yang berbeda dalam membentuk kualitas ibadah seorang Muslim.

"Perintah puasa ini, ada dua kata saum dan siyamul. Siyamul itu di al baqarah itu puasa fisik. Kalau saum Itu mempuasakan batin," tegas Ustaz Anas.

Beliau menjabarkan lebih lanjut bahwa puasa fisik (siyam) memiliki batas waktu yang sangat jelas, yakni diakhiri saat matahari terbenam dan tidak boleh diperlambat. Di sisi lain, shaum adalah ibadah yang menuntut seseorang mempuasakan lisannya dari pembicaraan yang tidak bermanfaat, serta menjaga batinnya dari hawa nafsu. Jika di siang hari umat Islam menjalankan puasa fisik, maka di malam hari mereka dituntut untuk terus menjalankan puasa batin.

Pemaparan ini sejalan dengan berbagai kajian tafsir dan literatur keislaman. Secara linguistik, istilah shaum memiliki spektrum makna yang lebih mendalam dibandingkan shiyam. Jika shiyam lebih merujuk pada kepatuhan fikih untuk menahan hal-hal yang membatalkan puasa secara fisik (makan, minum, dan hubungan biologis), kata shaum merepresentasikan pengekangan diri yang komprehensif. Ini mencakup menahan panca indra dari maksiat, menjaga lisan dari ghibah (menggunjing), hingga mengendalikan hati dari niat buruk.

Menjadi Pribadi 'Sohimin' Hingga Akhir Hayat

Lebih jauh, Ustaz Anas menjelaskan bahwa penggabungan antara keberhasilan siyam dan shaum akan melahirkan pribadi sohimin, yakni mereka yang senantiasa sanggup menjaga dirinya dari keburukan.

Upaya menjaga batin ini sangat esensial, bahkan sampai memunculkan ungkapan populer di masyarakat bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah berkah. Ustaz Anas meluruskan esensi dari ungkapan tersebut: tidur memang bisa dinilai sebagai kebaikan apabila tujuannya mencegah diri dari melakukan perbuatan yang tidak baik atau sia-sia. Daripada bangun namun memproduksi dosa lewat ucapan atau perbuatan, tidur dinilai lebih aman untuk menjaga kehormatan ibadah puasanya.

Kendati demikian, beliau memberikan catatan tegas agar umat Islam tidak salah kaprah. Orang yang berpuasa dilarang menjadikan hal tersebut sebagai dalih untuk tidur terus-menerus sepanjang hari. Saat waktu ibadah tiba, terutama sholat fardu, seorang Muslim wajib segera bangun dan menunaikannya.

Pemahaman ini sangat tepat secara syariat. Berdasarkan penelusuran dari berbagai literatur fikih dan kajian keislaman, tidur saat puasa memang berstatus mubah (boleh) dan bisa bernilai ibadah sebagai sarana menjauhi maksiat. Namun, jika tidur justru dijadikan alasan untuk bermalas-malasan hingga melalaikan kewajiban sholat lima waktu, maka hal itu bertentangan dengan esensi puasa itu sendiri. Ramadhan sejatinya adalah bulan untuk memperbanyak amal saleh, bukan sekadar menahan lapar yang dihabiskan dengan terlelap tanpa makna.

Di pengujung khutbah, beliau menitipkan pesan penting bahwa kebiasaan mengendalikan diri dan beribadah ini tidak boleh berhenti saat bulan puasa usai. "Kita dituntut untuk melakukan hal-hal baik dan perbuatan baik sampai akhir hayat," tutupnya.

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 28 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)