LANGIT7.ID - Dalam keheningan sepuluh malam terakhir Ramadhan, terdapat sebuah fenomena spiritual yang melampaui nalar hitungan manusia. Lailatul Qadar, yang secara harfiah berarti malam kemuliaan atau malam penetapan, hadir bukan sebagai perayaan yang riuh dengan simbol-simbol lahiriah, melainkan sebagai sebuah medan perlombaan batin yang sunyi namun intens. Di balik selubung malam tersebut, tersimpan janji pembebasan dan pengangkatan derajat kemanusiaan yang bersifat abadi.
Merujuk pada ulasan mendalam dalam kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam Fii Ramadhan karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, keutamaan malam ini bersifat fundamental.
Lailatul Qadar adalah saksi bisu turunnya Al-Quran Al-Karim, sebuah kitab suci yang diposisikan sebagai pedoman bagi mereka yang mendambakan kemuliaan. Penurunan wahyu pertama pada malam tersebut bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan sebuah proklamasi transformasi bagi peradaban manusia.
Dalam perspektif yang diurai oleh Syaikh Salim Al-Hilaaly, umat Islam yang benar-benar mengikuti sunnah Rasulullah memiliki cara unik dalam memperingati malam agung ini.
Berbeda dengan tradisi lain yang mungkin menggunakan tanda-tanda fisik tertentu atau ritual simbolis seperti menancapkan anak panah, kaum Muslimin justru memilih jalan ketaatan yang bersifat substansial. Mereka tidak memasang atribut, melainkan menghidupkan malam (qiyamul lail) dengan satu dorongan utama: iman yang menghunjam dan pengharapan pahala yang tulus hanya kepada Allah Azza wa Jalla.
Hal ini sejalan dengan landasan teologis yang tertuang dalam surat Al-Qadr:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍMalam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.Interpretasi atas seribu bulan ini sering kali dipahami oleh para ulama dunia, termasuk dalam catatan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, sebagai bentuk kemurahan Tuhan yang tak terbatas.
Ibadah pada satu malam tersebut memiliki bobot nilai yang melampaui akumulasi pengabdian selama lebih dari delapan puluh tahun kehidupan manusia. Namun, keberuntungan sebesar itu hanya dapat diraih oleh mereka yang benar-benar terjaga dalam kesadaran spiritual, bukan mereka yang hanya menanti dalam kepasifan.
Sifat ibadah pada Lailatul Qadar adalah personal sekaligus kolektif dalam semangat kompetisi kebaikan. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sendiri mencontohkan bagaimana beliau mengencangkan ikat pinggang dan membangunkan keluarganya pada sepuluh hari terakhir.
Keseriusan ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar adalah puncak dari sebuah maraton rohani. Kunci utama meraih malam ini bukanlah pengetahuan pasti akan tanggalnya, melainkan konsistensi dalam melaksanakan shalat malam di sepanjang hari-hari ganjil pada akhir Ramadhan.
Syaikh Salim Al-Hilaaly menekankan bahwa bagi seorang mukmin, mencari Lailatul Qadar adalah proses penyucian diri. Dengan berdiri lama dalam shalat, bersujud dalam kepasrahan, dan melisankan istighfar, seseorang sebenarnya sedang membangun jembatan menuju derajat mulia yang abadi. Al-Quran yang turun pada malam itu berfungsi sebagai pemandu yang mengangkat martabat manusia dari kerendahan nafsu menuju puncak kemuliaan iman.
Realitas sosial menunjukkan bahwa sering kali fokus masyarakat terpecah pada tanda-tanda alam seperti suhu udara atau bentuk bulan. Namun, melalui buku terbitan Pustaka Al-Haura ini, pembaca diajak untuk kembali pada substansi: bahwa tanda terbaik dari seseorang yang mendapatkan Lailatul Qadar adalah adanya perubahan perilaku yang semakin taat dan lembut pasca-Ramadhan. Kedamaian (salamun) yang disebut dalam Al-Quran pada malam tersebut harusnya meresap ke dalam hati dan terefleksi dalam tindakan sosial.
Sebagai kesimpulan, Lailatul Qadar adalah hadiah bagi mereka yang mau bersusah payah dalam ketaatan. Ia adalah malam keselamatan dari segala dosa bagi hamba yang bertaubat. Tanpa perlu tanda-tanda buatan manusia, kemuliaan malam ini tetap akan menyapa siapa saja yang hatinya terpaut pada wahyu yang diturunkan di dalamnya. Menghidupkan malam ini dengan iman adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap turunnya Al-Quran dan pengejawantahan dari kerinduan hamba akan ampunan Tuhannya.
(mif)