LANGIT7.ID-Riyadh; Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, melakukan serangkaian panggilan telepon tingkat tinggi pada Sabtu (7/3/2026) waktu setempat. Langkah ini dilakukan untuk berkoordinasi dengan para pemimpin dunia di tengah gelombang serangan rudal dan drone Iran yang belum pernah terjadi sebelumnya di kawasan Timur Tengah.
Dalam diskusi dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, dan Presiden Siprus Nikos Christodoulides, Putra Mahkota menegaskan penolakan Kerajaan Arab Saudi terhadap segala tindakan yang dapat mengganggu stabilitas regional, demikian dilaporkan otoritas setempat (SPA) dalam pernyataan terpisah.
Maraton diplomatik ini terjadi saat "Perang AS-Israel-Iran" yang meletus pada 28 Februari lalu memasuki pekan kedua, secara fundamental mengubah lanskap geopolitik kawasan.
Dalam panggilan teleponnya dengan Presiden Erdogan, Putra Mahkota mengutuk serangan Iran baru-baru ini yang menargetkan wilayah Turki. Ia menegaskan dukungan penuh Arab Saudi terhadap "semua tindakan yang diambil Turki untuk menjaga keamanan dan integritas wilayahnya."
Turki baru-baru ini melaporkan bahwa pertahanan udara NATO berhasil mencegat sebuah rudal balistik Iran di atas Mediterania timur, yang menandai perluasan signifikan dari teater konflik.
Demikian pula, PM Starmer menegaskan kembali dukungan kuat Inggris untuk Arab Saudi. Starmer mengutuk serangan-serangan Iran yang "tidak pandang bulu dan ceroboh" ke wilayah Arab Saudi, seraya menekankan bahwa Inggris mendukung langkah-langkah yang diambil Riyadh untuk menjaga kedaulatannya.
Permusuhan saat ini, yang oleh AS dijuluki "Operasi Epic Fury", dimulai pada 28 Februari 2026, setelah gagalnya negosiasi nuklir dan meningkatnya ketegangan selama bertahun-tahun. Konflik dipicu oleh "serangan pemenggalan" besar-besaran gabungan AS-Israel di Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan pejabat tinggi lainnya.
Sejak serangan awal tersebut, Iran melancarkan aksi balasan yang disebut sebagai "skenario mimpi buruk", untuk pertama kalinya dalam sejarah menargetkan semua negara GCC (Arab Saudi, UEA, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman).
Serangan secara spesifik menyasar infrastruktur minyak dan gas, termasuk upaya serangan drone di ladang Shaybah pada Sabtu pagi dan serangan yang berhasil mengenai fasilitas LNG Qatar, yang sempat menghentikan 20 persen kapasitas LNG dunia.
Meskipun banyak proyektil berhasil dicegat oleh baterai Patriot dan THAAD, puing-puing yang berjatuhan dan serangan langsung yang mengenai pusat-pusat sipil mengakibatkan banyak korban jiwa di kawasan Teluk.
Eskalasi yang terus berlangsung ini telah memaksa terjadinya realiansi cepat di kawasan tersebut. Sebagaimana disampaikan Putra Mahkota dalam panggilan teleponnya dengan presiden Siprus, dampak dari eskalasi militer ini kini tidak hanya mengancam keamanan regional, tetapi juga keamanan internasional.(*/saf/arabnews)
(lam)