Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home masjid detail berita

Hukum Memelihara Jenggot dan Fenomena Berhias saat Idul Fitri

miftah yusufpati Senin, 16 Maret 2026 - 16:00 WIB
Hukum Memelihara Jenggot dan Fenomena Berhias saat Idul Fitri
Kemungkaran dalam bentuk mencukur jenggot di hari raya adalah cermin dari masih adanya jarak antara pemahaman ritual dan pemahaman esensial dalam beragama. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pagi satu Syawal di kota-kota besar Indonesia biasanya dimulai dengan pemandangan yang serupa. Antrean di depan cermin, aroma minyak wangi yang menyengat, dan deru halus mesin pencukur elektrik. Bagi banyak pria, tampil klimis adalah standar emas untuk merayakan kemenangan. Namun, di balik keramik kamar mandi yang dingin, tersimpan sebuah diskursus fikih yang tajam. Apa yang dianggap sebagai upaya berhias (tazayyun) oleh sebagian orang, justru dipandang sebagai sebuah kemungkaran atau anomali ibadah oleh para penjaga literatur klasik dan kontemporer.

Dr. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti dalam risalahnya yang bertajuk Idul Fithri Ahkamuhu wa Adabuhu, menyoroti fenomena ini dengan nada yang cukup serius. Menurut beliau, salah satu kemungkaran yang kerap terjadi pada hari raya adalah tindakan kaum pria yang berhias dengan cara mencukur jenggot. Dalam kacamata Al Qaryuti, memanjangkan jenggot bukanlah sekadar pilihan gaya hidup atau tren maskulinitas, melainkan sebuah kewajiban yang bersifat kontinu atau sepanjang masa.

Secara interpretatif, hari raya seharusnya menjadi momentum bagi setiap muslim untuk menunjukkan rasa syukur yang paripurna kepada Tuhannya. Syukur tersebut idealnya dimanifestasikan melalui penyempurnaan ketaatan, bukan justru dengan melakukan tindakan yang dalam beberapa madzhab dipandang sebagai kemaksiatan. Al Qaryuti menekankan bahwa kebahagiaan Idulfitri adalah kebahagiaan spiritual yang bersumber dari keberhasilan menundukkan hawa nafsu selama Ramadan, sehingga sangat paradoks jika kemenangan tersebut dirayakan dengan melanggar fitrah yang telah ditetapkan oleh syariat.

Landasan normatif yang mendasari kewajiban memelihara jenggot merujuk pada sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma dalam Shahih Al Bukhari:

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

Artinya, Selisihilah orang-orang musyrik, biarkanlah jenggot itu memanjang dan tipiskanlah kumis.

Para ulama dunia, termasuk Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani dalam kitab Fathul Bari, menjelaskan bahwa perintah ini memiliki dimensi identitas (idzhari syiaril Islam). Jenggot dipandang sebagai ciri khas alami pria yang diciptakan Tuhan. Oleh karena itu, mengubah atau menghilangkannya demi alasan estetika hari raya dianggap sebagai bentuk tasyabbuh atau menyerupai kelompok yang tidak memiliki tuntunan yang sama.

Dalam konteks sosiologis, tekanan untuk tampil bersih tanpa bulu wajah sering kali muncul dari standar kecantikan modern yang dipengaruhi oleh budaya pop global. Hal inilah yang dikritisi oleh Al Qaryuti sebagai bentuk kekhilafan dalam memahami makna berhias di hari raya. Beliau mengingatkan bahwa berhias yang disunnahkan adalah dengan mandi, memakai pakaian terbaik yang menutup aurat, dan menggunakan wewangian, bukan dengan mengubah pemberian fisik yang diperintahkan untuk dijaga.

Lebih jauh lagi, Syekh Muhammad bin Shalih al Utsaimin dalam beberapa fatwanya sering menekankan bahwa Idulfitri adalah hari kembali kepada kesucian (fitrah). Jika fitrah manusia adalah mematuhi perintah Khalik, maka mencukur jenggot justru menjadi langkah mundur dari hakikat fitrah tersebut. Seharusnya, seorang hamba merasa malu jika di hari saat ia memohon ampunan atas dosa-dosanya, ia justru tampil dengan wajah yang melanggar sunnah yang sangat ditekankan oleh Nabi.

Pesan yang ingin disampaikan oleh Al Qaryuti melalui tulisannya yang diterbitkan oleh IslamHouse adalah sebuah ajakan untuk melakukan dekonstruksi terhadap makna keren di hari lebaran. Kemenangan sejati tidak terletak pada seberapa halus dagu seorang pria di bawah sinar matahari pagi, melainkan pada seberapa teguh ia memegang prinsip agamanya di tengah arus tren. Menghargai jenggot adalah bentuk penghormatan terhadap jati diri sebagai seorang muslim yang merdeka dari dikte mode sekuler.

Sebagai simpulan, kemungkaran dalam bentuk mencukur jenggot di hari raya adalah cermin dari masih adanya jarak antara pemahaman ritual dan pemahaman esensial dalam beragama. Idulfitri harus menjadi panggung ketaatan total. Dengan menjaga apa yang diperintahkan untuk dipelihara, seorang muslim sedang memproklamasikan bahwa kebahagiaannya telah sempurna di bawah naungan syariat, tanpa perlu menanggalkan identitas fitrahnya demi pujian manusia.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)