Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home masjid detail berita

Bagaimana Hukum Tidak Berpuasa Saat Dalam Perjalanan Mudik? Ini Penjelasannya

lusi mahgriefie Selasa, 17 Maret 2026 - 08:47 WIB
Bagaimana Hukum Tidak Berpuasa Saat Dalam Perjalanan Mudik? Ini Penjelasannya
Foto: ist
LANGIT7.ID-, Jakarta - - Perjalanan mudik atau pulang ke kampung halaman baik dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum, memiliki tantangan tersendiri. Jauhnya jarak yang ditempuh, kondisi cuaca, jalan maupun kondisi fisik menjadi alasan seseorang tidak berpuasa selama perjalanan. Bagaimana hal ini ditilik secara hukum Islam?

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Kementerian Agama, Arsad Hidayat, mengatakan, seseorang yang melakukan perjalanan jauh atau safar, termasuk saat mudik, diperbolehkan tidak menjalankan ibadah puasa. Namun, ada adab yang perlu dijaga selama bulan Ramadhan.

Bagaimana Hukum Tidak Berpuasa Saat Dalam Perjalanan Mudik? Ini Penjelasannya(Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Kemenag, Arsad Hidayat)

Arsad mengingatkan pentingnya menghormati orang lain yang tetap menjalankan puasa. "Sebisa mungkin tidak makan dan minum secara terbuka di hadapan orang yang sedang berpuasa. Itu bagian dari adab dan etika yang perlu dijaga," ujar Arsad di Jakarta, melansir laman Kemenag, Selasa (17/3/2026).

Ia menjelaskan, diperbolehkannya berbuka bagi musafir memiliki dasar dalam Al-Quran, salah satunya ayat 185 Surah Al-Baqarah. Ayat tersebut menyebutkan bahwa orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan diperbolehkan tidak berpuasa dan menggantinya pada hari lain di luar bulan Ramadhan.

Meski demikian, ia menilai tetap berpuasa saat safar memiliki keutamaan apabila kondisi fisik masih memungkinkan. "Apabila seseorang masih mampu berpuasa saat mudik, maka itu lebih baik dan memiliki keutamaan tersendiri," kata Arsad.

Baca juga: Terjadi Peningkatan Jumlah Kendaraan, Ini Daftar Titik Rawan Macet Mudik Lebaran 2026

Hal tersebut juga didukung sejumlah riwayat hadis yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW pernah tetap berpuasa dalam perjalanan.

Dalam riwayat Abu Darda disebutkan bahwa dalam perjalanan yang sangat panas, tidak ada yang berpuasa kecuali Rasulullah SAW dan Abdullah bin Rawahah. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Menurut Arsad, pilihan untuk tetap berpuasa atau tidak saat safar kembali pada kondisi masing-masing individu. "Bagi yang sedang safar lalu tetap berpuasa, itu menjadi keutamaan tersendiri selama tidak menimbulkan kesulitan yang berat," ujarnya.

Ia juga mengingatkan para pemudik agar tidak memaksakan diri jika merasa lelah selama perjalanan. Arsad menyarankan pemudik memanfaatkan fasilitas yang tersedia di masjid sepanjang jalur mudik.

"Kalau dalam perjalanan merasa lelah, jangan dipaksakan. Silakan manfaatkan masjid-masjid yang menjadi bagian dari program Masjid Ramah Pemudik sebagai tempat beristirahat," kata Arsad.

Kementerian Agama telah menyiapkan ribuan rumah ibadah yang siap melayani 24 jam, selama fase arus mudik dan arus balik Lebaran 2026. Tercatat ada 6.859 masjid di seluruh Indonesia yang telah terdaftar, dan menyatakan siap berpartisipasi dalam program tersebut.

Baca juga: Jangan Sampai Ketinggalan Shalat Selama Perjalanan Mudik, Kemenag Siapkan Ribuan Rumah Ibadah 24 Jam

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan juga mendorong agar masjid menyediakan fasilitas tambahan yang dapat membantu kenyamanan perjalanan pemudik.

Ia meminta agar layanan yang diberikan benar-benar bersifat gratis dan tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi dengan meminta bayaran kepada pemudik.

(lsi)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)