LANGIT7.ID - , Jakarta - Aktivitas yang padat, gaya hidup modern, dan tuntutan akan hidup yang lebih baik seringkali membuat orang menjadi stress. Gejala stres yang mudah terlihat seperti mudah gusar, moody, frustasi hingga sulit untuk menenangkan pikiran.
Bila dibiarkan berlarut-larut stres bisa berdampak buruk pada kesehatan tubuh. Saat stres biasanya orang akan merasakan refluk asam, mual, muntah, sakit perut, heartburn hingga pengaruh pada pencernaan.
Solusi untuk mengurangi tingkat stres dan kecemasan adalah melalui teknik meditasi. Lalu, apa itu meditasi? Bagaimana Islam memandang meditasi?
Dilansir dari About Islam, meditasi adalah dasar dari spiritualitas ajaran Islam. Sayangnya, hal tersebut malah mendapat perhatian yang layak. Meditasi berarti berserah diri dengan duduk diam dan tunduk akan kehendak Allah, dalam kondisi pikiran yang sadar.
Sejak dulu, meditasi sudah dipraktikkan para pendahulu dalam beberapa bentuk dan bisa meningkatkan ibadah fisik seperti salat, puasa dan berzikir. Dengan berserah diri berarti kita melepas ego dan menyadari bahwa bukan kita yang memegang kendali.
Banyak manfaat yang bisa didapat dari meditasi ini, seperti mengurangi tingkat stres, meningkatkan ingatan, bisa fokus dan konsentrasi, hingga meningkatkan hubungan personal.
Semua kegiatan meditasi dalam Islam adalah untuk mengingat Allah SWT dengan tujuan menyucikan hati dari pikiran negatif. Lalu, aktivitas apa saja yang menjadi bentuk meditasi dalam Islam? Berikut 5 di antaranya
1. Tafakur Tafakur artinya merenungkan kebesaran Allah. Bentuk meditasi dalam Islam ini juga menjadi salah satu amalan yang dilakukan Rasulullah SAW untuk mengenal Allah SWT lebih dalam.
Tafakur sangat penting untuk dilakukan, terlebih zaman budaya modern seperti saat ini dengan banyaknya gangguan di luar sana. Dengan kesibukan dan aktivitas yang padat, menjadikan kita sulit untuk merenung dan berpikir. Hingga berakhir dengan pikiran negatif, stres, rasa cemas dan keraguan.
Mulailah dengan duduk selama lima menit setelah melakukan shalat fardhu. Tutup mata dan pikirkan bagaimanaa Allah selalu mengawasi setiap gerakan kita. Tafakur adalah momen dimana hanya ada kita dan Allah. Sisihkan waktu untuk merenungkan kebesaran-Nya dan hidup di akhirat kelak sehingga mampu membuat kita bersyukur dan meringankan tekanan dalam hidup.
![5 Cara Meditasi Islam yang Bisa Memberi Ketenangan Pikiran]()
Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allah Ta'ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat." (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).
2. Bersyukur Banyak bersyukur dengan mengucapkan terima kasih adalah bentuk verbal kita dalam mengucap syukur. Terlebih bila melihat orang yang kurang beruntung, dan tanpa sadar kita mengucap, "Saya bersyukur atas apa yang saya miliki saat ini".
Selain sebagai sebuah kewajiban, bersykur juga memiliki keutamaan besar bagi manusia. Seperti nikmat yang dilipatgandakan Allah SWT.
Artinya: "Orang makan yang bersyukur adalah sederajat dengan orang bershaum yang sabar." [HR. Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban].
Artinya: “Allah berfirman dalam hadits qudsi-Nya: “wahai anak Adam, bahwa selama engkau mengingat Aku, berarti engkau mensyukuri Aku, dan apabila engkau melupakan Aku, berarti engkau telah mendurhakai Aku!” [H.R Thabrani].
3. I'tikaf I'tikaf adalah diam di dalam masjid dengan tujuan beribadah hanya untuk Allah SWT. Umat Islam menjalankan kebiasaan ini bisa setiap waktu, hanya saja lebih sering dilakukan saat bulan Ramadhan.
![5 Cara Meditasi Islam yang Bisa Memberi Ketenangan Pikiran]()
Nabi Muhammad SAW saat di Gua Hira pun berdiam diri atau i'tikaf. Dan kebiasaan juga dilakukan beliau di bulan Ramadhan, karena pahalanya yang sangat besar. Seperti yang dijelaskan dalam hadits yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam biasa beritikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau di wafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beritikaf setelah beliau wafat. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)
I'tikaf yang dilakukan secara rutin pun bisa meningkatkan konsentrasi kita dalam shalat dan ibadah lainnya.
4. Dzikir Praktek meditasi yang umum dilakukan umat Islam adalah berzikir. Dzikir berarti memuji dan mengagungkan Allah. Melafalkan dan memuliakan-Nya melalui zikir juga bisa meningkatkan efektivitas ibadah kita.
Allah SWT pun menjamin akan memberi ketenangan hati bagi mereka yang selalu mengingat-Nya melalui dzikir. Allah berfirman dalam Alquran :
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang,” (QS. Al-Ahzab: 41-42).
"Orang-orang yang beriman keadaan hati mereka menjadi tenang karena dzikir kepada Allah, ingatlah dengan mengingatkan Allah, hati menjadi tenang." (QS. Al-Ra'du: 28).
5. Membaca Alquran Salah satu meditasi yang paling bermanfaat dan memiliki efek yang besar adalah membaca Alquran. Selain memberi ketenangan, membaca Alquran juga memiliki pahala besar. Saat mengalami hari yang buruk, sebaiknya segerak berwudhu dan membaca Alquran.
Rasulullah bersabda: “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi).
![5 Cara Meditasi Islam yang Bisa Memberi Ketenangan Pikiran]()
Sementara itu, membaca Alquran memiliki sejumlah keutamaan, salah satunya yakni perniagaan yang tidak pernah merugi.
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Alquran) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukur” (Alquran surat Al Fathur ayat 39-40).
(est)