LANGIT7.ID-, Bekasi - Pascakecelakaan kereta di Bekasi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA)
Arifah Fauzi mengusulkan gerbong khusus wanita
KRL dipindah ke tengah rangkaian. Sementara gerbong ujung diisi penumpang laki-laki. Hal ini menuai kontroversi.
Usulan ini muncul mengingat korban jiwa dalam kejadian kecelakaan maut antara
KRL dan
KA Argo Bromo Anggrek semuanya perempuan. Sebab, KA Argo Bromo menghantam gerbong khusus perempuan hingga kondisinya ringsek parah.
"Jadi yang laki-laki di ujung. Yang depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah," ujar Arifah di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Selasa (28/4).
Menurutnya, posisi gerbong di bagian depan dan belakang memiliki risiko lebih tinggi saat terjadi tabrakan, sehingga perlu penataan ulang untuk melindungi kelompok rentan.
Selama ini penempatan gerbong wanita di ujung dilakukan untuk menghindari penumpukan penumpang. Dengan demikian, kejadian kecelakaan menjadi bahan evaluasi.
"Tadi kalau kita ngobrol dengan KAI, kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," ujar Arifah.
Baca juga: Jasa Raharja Siapkan Santunan Rp90 Juta untuk Korban Tewas Tragedi Kereta di Bekasi TimurNamun begitu, Arifah menegaskan usulan tersebut masih bersifat awal dan belum dibahas lebih lanjut. Saat ini, fokus utama pemerintah masih pada evakuasi dan penanganan korban. "Belum ya, ini kan masih proses utama evakuasi dulu, penyelamatan buat korban. Tadi sempat bicara dengan Direktur KAI, kami mengusulkan," katanya.
Meski baru menjadi usulan namun telah menuai kontroversi. Berbagai respons muncul, salah satunya dari Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan,
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Dia menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama, dan tidak boleh menjadi korban dalam insiden apa pun.
"AHY menegaskan keselamatan publik di dalam sistem transportasi publik harus terjamin, agar bisa menghadirkan rasa aman bagi seluruh kalangan masyarakat," ujar AHY di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4) sore.
Meski begitu, AHY mengaku paham dengan kekhawatiran karena posisi perempuan sebagai kelompok rentan justru memiliki risiko tertinggi dalam kejadian serupa.
Pada kesempatan yang sama, AHY berujar, telah meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk segera melakukan investigasi menyeluruh dan melaporkan hasilnya secara transparan kepada publik.
Investigasi nantinya akan mencakup berbagai aspek penyebab kecelakaan, termasuk dugaan adanya gangguan pada sistem persinyalan.
Baca juga: Dampak Tabrakan Kereta, Perjalanan KA Jarak Jauh Dibatalkan dan KAI Pastikan Refund 100%Ia menambahkan, pihak KNKT telah menyanggupi akan melakukan investigasi secara menyeluruh.
"Saya minta transparan, terbuka, bisa dijelaskan kepada publik. Karena ini juga harus ada faktor edukasinya," tambah dia.
Sebagai solusi jangka panjang, AHY menyebut akan membangun jalan layang ataupun terowongan di area pelintasan sebidang yang padat lalu lintas.
"Selebihnya kita ingin memastikan juga hadir solusi infrastruktur. Misalnya, ketika ada lintasan-lintasan sebidang yang memang sangat padat di sejumlah kota, itu perlu kita bangun
flyover atau
underpass," pungkasnya.
(lsi)